Thursday, February 18, 2016

Memulai Lagi

picsource: dianidian.wordpress.com

Ini bukan endorsement biskuit. Hanya racauan.

Sudah bertahun-tahun lamanya blog ini tidak diisi dan malam ini saya hendak mengisinya kembali. Tapi saya bingung. Well, waktu bergulir, orang berubah, sayapun begitu. Dulu blog ini diisi tulisan-tulisan saya yang kemudian saya cross posted ke blog lainnya. Masa itu adalah masa-masa lagi gandrung-gandrungnya ngeblog, maklum masih muda. Masa itu juga masa pencarian hosting gratisan yang enak. Hehe.

Sebenarnya blogspot adalah hosting yang awal saya lirik. Tapi kemudian, saya malah menggunakan multiply sebagai blog utama. Kalau sedang pengen, tulisan di MP (multiply) dipublikasikan ke sini juga. Tapi kalau lagi malas ya tidak. Lalu datang bencana, MP ditutup karena pemiliknya mau ganti bisnis. MP mau jadi e-commerce saja dan menutup fasilitas blogging.

Setelah heboh-heboh dunia MP dihancurkan, sayapun memindahkan tulisan-tulisan di sana ke blog lain. Awalnya lagi-lagi blogspot yang dilirik. Tapi ternyata blogspot juga yang ditinggalkan. Hehe. Saya pindah ngeblog ke wordpress.

Sekarang blog ini mau diaktifkan lagi. Tapi saya yang sekarang beda dengan yang dulu. Tidak mau mengisinya dengan konten tulisan yang sama dengan blog yang lain. Tiap blog harus beda. Tapi ternyata di situ masalahnya.

Saya bingung blog ini mau diisi niche apa yang beda dengan blog saya yang lain. Judul blognya "Be Better" (makanya saya pasang gambar biskuit better) sepertinya menambah pelik persoalan, karena jadi tidak bisa menulis yang sekadar hehe-hehe ga manfaat. Apaan dong ya?


Sunday, April 26, 2009

Kenapa Harus Berbuat Baik?

“why are you so kind young girl?!”

Beberapa hari lalu seseorang meminta tolong kepada saya—meskipun sebenarnya tidak jelas minta tolong atau memerintah karena dia memakai embel-embel “saya beri waktu anda sampai jam 12. Trims” di akhir sms-nya. Tapi pada akhirnya saya melakukan apa yang dia minta juga, sebatas kemampuan saya. Sampai setelah urusannya selesai, dia bertanya “why are you so kind young girl?!” dan saya jawab dengan “karena ALLAH mencintai orang-orang yang berbuat baik (innALLAHa yuhibbul muhsinin)”. Ah, padahal yang saya lakukan tidak ada apa-apanya, saya cuma berkorban waktu dan sms kok, sepertinya saya juga masih jauh dari kriteria berbuat baik dan memasukkan saya dalam kategori muhsinin.

Begitulah, di hari sata menerima sms itu, paginya saya habis mengisi materi al ihsaan, artinya berbuat baik. Seperti dituangkan dalam hadis “Sesungguhnya ALLAH mewajibkan berlaku ihsan dalam segala hal” (HR Muslim), maka ihsan selayaknyalah menjadi bagian dari kehidupan seorang muslim. Dan pertanyaan, kenapa kamu begitu baik? Atau kenapa kamu berbuat baik? Tidaklah perlu ditanyakan, karena kebaikan sudah menjadi ruh setiap orang.

Ihsan yang dimaksud sebenarnya tidak sepenuhnya sesuai dengan “kind” yang dimaksud dalam sms. Menurut saya “kind” ini lebih mengacu pada kebajikan atau shodaqoh (setiap yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain adalah shodaqoh), tapi waktu itu pikiran saya langsung mengacu pada ihsan ini. Ihsan yang dimaksud adalah tidak sekedar berbuat baik, tapi melakukan sesuatu dengan baik dan benar, melakukan sesuatu sesempurna mungkin dan menjaga seluruh adab yang bisa menjadikan kesempurnaan perbuatan yang dilakukan. Ihsan berarti paket dari ikhlashun niyat (niat yang ikhlas), itqoonul ‘amal (pekerjaan yang tertib/professional), dan jaudatul adaa’ (penyelesaian yang baik).

Ihsan adalah cirri orang yang menyadari perlunya membalas kebaikan ALLAH dan adanya pengawasan ALLAH. Berlaku ihsan adalah buah dari mengenal ALLAH secara benar. Berbuat baik karena menyadari adanya pengawasan ALLAH yang tidak pernah lalai dan lupa, Mahatahu apa yang kita kerjakan dan apa yang tersembunyi dalam hati serta malaikat Rokib dan ‘Atid yang jauh lebih jeli dan teliti dari Komisi Pemantau manapun dalam mencatat semua perbuatan kita. Juga karena adanya kebaikan ALLAH yang begitu banyak, berupa fisik maupun nonfisik, profesionalisme ALLAH dalam mengatur alam semesta. ALLAH saja professional masa kita hambaNya engga?

Seperti halnya jawaban saya terhadap sms tersebut, seseorang yang berbuat baik memiliki banyak keuntungan, karena ALLAH akan member balasan yang baik pula.
Pertama. Kecintaan ALLAH
“dan berbuat baiklah karena sesungguhnya ALLAH mencintai orang-orang yang berbuat baik (muhsinin)” QS 2:195.
Dicintai manusia saja sudah senang, apalagi dicintai ALLAH?
Kedua. Pahala dari ALLAH
“Maka sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” QS 16:97
Ketiga. Pertolongan dari ALLAH
“dan sungguh, ALLAH beserta orang-orang yang berbuat baik” QS 26:69
Apa yang bisa mengalahkan pertolongan ALLAH? Ngga ada kan..

Indah sekali bukan kehidupan orang-orang yang berbuat baik? Semoga kita menjadi bagian dari mereka.

Dan carilah apa yang telah dianugerahkan ALLAH kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana ALLAH telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya ALLAH tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. QS 28:77

Maraji’
Al Qur’an Al Karim
Prayitno, I. 2003. Ma’rifatullaah. Jakarta: Pustaka Tarbiatuna
Al-Wafi Menyelami Makna 40 Hadis RasuluLLAH SAW: Dr Musthafa Dieb Al-Bugha&Muhyiddin Mistu

Wednesday, April 1, 2009

Jangan Coba-coba

“Islam bersatu tak bisa dikalahkan”

Suatu hari saya pergi bareng dua orang kakak saya, sala seorang dari mereka bercerita tentang pembicaraannya dengan suaminya suatu hari
“nah, sekarang udah tau kana pa aja yang bikin aku marah?”
”iya, udah. Pertama, kalau keluarganya dihina”
mendengar jawaban suaminya kakak saya menahan tertawa, sebenarnya bukan itu jawaban yang dia maksud. Usut punya usut, kenapa abang saya menjawab seperti itu karena ternyata suatu hari abang ipar saya pernah ngomongin saya dan kakak saya, mendengar adiknya diomongin begitu, sangat tidak terima dan akhirnya murkalah. Padahal, kalau denger dari ceritanya, apa yang abang ipar saya omongin itu tidak salah-salah amat, memang saya orangnya begitu kok.

Suatu hari juga, kakak saya yang lain (berbeda dengan dua orang sebelumnya) mengatakan sesuatu. Diawali dari pertanyaan saya kenapa bisa temannya tidak percaya kalau saya adalah adiknya. Pembicaraan kamipun sampai pada pernyataan “huh, temen-temen gue mah ngga bakal berani De ngatain keluarga gue. Kalo ngatain gw biarin deh, tapi kalo sampe ngatain keluarga gw, huh..awas aja”
Lantas kakak saya yang inipun berceritalah bahwa pernah seorang temannya, karena sesuatu hal, mengeluarkan kata—yang dalam hal ini—konotasinya agak buruk tentang kami bersaudara. Kakak sayapun meradang ”gue marah banget De, gue jawabin, dia sampe ngga enak banget sama gw, mau negor jadi takut, sampe pulang, mau salaman aja dia takut”. Saya cukup ma’rifah dengan kakak saya ini dan bisa membayangkan bagaimana menyeramkannya dia saat itu.

Mendengar cerita dua orang ini, saya jadi ingat percakapan Chae Kyong dan Shin di komik Goong. Suatu hari Shin mengjhina keluarga Cahe Kyong, karena adiknya Chae Jun membuntuti Hyo Rin, diapun berpendapat ”menghantui kehidupan orang lain. Itu ciri khas keluargamu ya?” Chae Kyong terluka mendengarnya dan diapun melawan ”jangan menghina keluargaku. Seperti semua orang, aku juga bisa tahan kalau aku sendiri dimaki, tapi kalau keluargaku dimaki juga, aku tidak terima.” berhubung Shin yang putra mahkota itu tidak memiliki keluarga yang seperti kita rakyat jelata, Chae Kyong menambahkan ”Iya sih..kamu yang bertumbuh tanpa kasih sayang keluarga, tidak akan tahu perasaan seperti ini” Mantabh!


Yah, sepertinya kebanyakan orang begitu, masih bisa bertoleransi kalau diri sendiri saja yang dihina, tapi kalau sudah keluarga, orang-orang yang kita sayangi, maka otomatis surai ini tertegak, kuku keluar, matapun berkilat (kita ini manusia apa singa sih?!). saya pikir hal ini berlaku tidak hanya untuk keluarga dengan makna denotasi, keluarga yang terbentuk karena pertalian darah dan perkawinan, hubungan yang terbentuk karena pernah numpang di rahim yang sama atau karena seseorang mengatakan ”saya terima nikahnya” dan diakhiri dengan ”dibayar tunai”, bukan hanya keluarga yang seperti ini. Keluarga besar profesi, almammater, etnis, dll. Apalagi, yang sudah jelas pengaturannya seperti dalam Qur’an dan sunnah, keluarga satu aqidah,keluarga besar muslim, bahkan kata keluargapun kurang tepat lagi, karena kita satu tubuh!

Jadi, jangan anda coba-coba menghina keluarga orang lain, keluyarga apapun itu. Kami masih bisa tahan jika hanya diri ini saja yang dihina, tapi jika ini sudah menyangkut keluarga kami, maka bersiaplah. Karena persaudaraan kami begitu kuat, kekuatan ukhuwah kami begitu dahsyat, tapi ya, mungkin kalian yang tidak pernah merasakan manisnya ukhuwah seperti kami tidak akan paham.

ALLAHumma a’izzal isalama wal muslimin.
Ya ALLAH menangkanlah Islam dan kaum muslimin
ALLAHumma allif baina Qulubihim wa tsabbit aqdamahum
Ya ALLAH satukanlah hati-hati mereka, berikan keteguhan dan limpahkan kesabarannya

Jiping, Ngaji Bareng Kuda Lumping

”Ilmu itu bak binatang buruan, sedangkan tulisan itu adalah tali pengikatnya” (Imam Syafi’i)

Suatu hari saya ikutan tatsqif, dengerin taujih ustadz. Seperti biasa, kalau orang bicara di depan tidak langsung ke inti meterinya, pake pengantar dulu, kenalan dulu, dsb. Pengantar di sebuah materi bisa dianalogikan dengan pemanasan di senam kesegaran jasmani, buat pembicara maupun pendengarnya. Buat kita-kita para pendengar, pemanasan ini juga bisa digunakan untuk menyiapkan peralatan mencatat.

Setelah pengantarnya selesai, Ustadz Ahmad Zainuddin Lc pun masuk ke dalam inti materinya. Beliau sudah akan menyebutkan poin-poin, tapi masih ada hal yang dirasa kurang pas, ”kok ga pada nyiapin peralatan? Pada bawa peralatan ga?”, begitu tanyanya. Secara implisit, sebenarnya ustadz ingin bertanya ”ngga pada mau nyatet nih?”. setelah ustadz bertanya demikian, Pak Mcpun berdiri dan dengan hebohnya menawarkan pulpen pada audiens.

Menurut saya momen ini unik, soalnya baru pertama kali saya dengar ada ustadz sampai negor begini (setelah bertahun-tahun jaman pengajian remaja di kampung dulu). Entah karena biasanya semuanya pada rajin nyatet dan baru pertama kali begini atau fenomena ikhwan jiping (ngaji kuping) baru pertama kali ustadz temukan di daerah sini, tidak tahu juga, saya tidak pernah memperhatikan apakah para ikhwan pegang catetan atau tidak (ya iyalah..). Memangnya jiping masih jaman ya?

Jaman memang sudah berubah, kebiasaan manusia juga berubah. Kalau dulu kita biasa mencatat dengan kertas dan pulpen, sekarang belum tentu. Beberapa mahasiswa saya lihat begitu sampai di acara, buka laptop, dan mulai ketak-ketik mencatat. Trend mahasiswapun berubah dari ”fotocopy oriented” jadi ”softcopy oriented”. Tidak usah mencatat, nanti di akhir acara tinggal sodorin flashdisk ke panitia, selesai.

Karena banyak kemudahan itu semakin malaslah kita mencatat. Belum lagi alasan lain seperti ”kalau fokus dengerin ngga bisa sambil nyatet”. Bah! Ustadz bahkan sampai bercerita, suatu hari setelah dia menyampaikan sebuah materi ada yang berkomentar ”yang tadi materinya bagus ustadz, kenapa ngga dibagi aja softcopy nya?”, ustadz jawab ”memangnya antum ngga dateng waktu xxx dan minta softcopynya?”, ”iya, dapet ustadz”, ”materi hari ini kan sama dengan yang waktu itu, cuma dikembangin sedikit”. ”Berarti apa?” tanya ustadz ke kami, ”habis minta softcopy dirumah juga ngga dibuka-buka lagi kan?” Nah lo..

Padahal catatan itu penting banget lho. Teman saya cerita, ada seorang abang yang kalau ada pemilihan calon ketua dia selalu bertanya pada kandidat apakah ada yang mencatat, ”masalah umat itu banyak, gimana kalian bisa ingat dan megurusnya kalau tidak kalian catat?”, begitulah kira-kira.

Pena yang lemah lebih tajam dari ingatan yang kuat. (apa pena yang tumpul lebih kuat dari ingatan yang tajam ya? He..lupa). buktinya waktu diskusi home group beberapa waktu lalu, seorang teman menjelaskan trias leukemia “anemia, leukopenia, dan trombositopenia”, saya merasa tidak asing dengar trias ini, saya buka-buka catatan dan menemukan sesuatu. “Kalo di catetankuada 3 hal yang khas pada anemia aplastik: anemia, leukopenia, trombositopenia, kok sama? Kalo pada leukemia juga begitu kenapa dibilangnya khas pada anemia aplastik?” teman-teman pada diem dan bilang “iya..ya” sambil mengingat-ingat diskusi sebelumnya. Tapi tiba-tiba saya menyadari sesuatu “eh, di bawahnya ada tulisan lagi nih “mirip sama leukemia, cuma pada leukemia kronik bisa terjadi leukositosis”. Teman-teman cuma bisa takjub doang dan bilang “ooh gitu ya? Liat catetannya dong Di”. Berguna kan pena saya yang lemah ini? Memang sih, untuk orang pelupa tapi tulisannya bagus seperti saya, mencatat adalah sebuah pilihan brillian.

Jadi, apapun gayanya, pertahankanlah kebiasaan mencatat ini, pakai buku, laptop, HP, apapun, asal jangan nyatet di tembok masjid aja.karena pasti berguna, untuk diingat lagi, dipelajari lagi, disampaikan pada orang lain, atau minimal bisa untuk mengenang betapa mengantuknya anda saat materi itu disampaikan hanya dengan melihat betapa keritingnya tulisan anda. Hehe


Friday, January 30, 2009

(Lagi) Tentang Pentingnya Membaca, Kali Ini Dari Nenek Hama

Buku adalah jendela dunia. Aduh, udah sering denger. Iqro’ bacalah. Ya.ya, ayat pertama yang turun dan sangat familiar. Membaca investasi tak kenal rugi. Iye, percaya kok. Tapi seberapa mengamalkannya kita? Seberapa rajin kita membaca? Ehm, pertanyaannya saya ganti deh, seberapa rajin saya membaca? Ehm..ya..ya..rajin kok *penilaian pribadi* hehe

Sebenarnya membaca itu penting untuk siapa saja tapi saya lagi mau fokus ke pentingnya membaca untuk penulis, tidak hanya terbatas ke penulis buku, tapi juga penulis cerita, pengarang komik, bahkan blogger. Sebenarnya aroma membaca seorang penulis bisa tercium oleh pembacanya lho. Karena aroma gemar membaca kental dengan aroma ilmu dan wawasan. Dan produk tulisan atau karyanya pun jadi lebih bermakna, ”dalem”, mencerahkan, atau berbobot. Seperti buku yang sedang saya baca akhir-akhir ini, berasa banget kalau yang nulis itu orang pinter, bacaannya banyak, wawasannya luas. Atau sebuah site di MP, contact saya, waktu itu saya pernah tanya padanya apa buku yang dia suka baca, dia malah bertanya balik pada saya ”emangnya kelihatan suka membaca ya” dan saya jawab iya. Sebenarnya saya pengen banget bertanya balik padanya, bagaimana dengan blog saya, tapi saya terlalu takut untuk mengetahui kenyataan, soalnya kayanya begitu pahit. Hehe

Jangankan sebuah buku yang tujuannya memang menginformasikan pada pembaca, membuat cerita yang fiksipun perlu membaca biar cerita yang dibuat lebih bagus, hidup dan ngga ngibul-ngibul amat.

Misalnya Takeshi Maekawa, untuk membuat cerita Chinmi di pulau Kan-an, melawan Jiirai dan Jenderal Boru, sampai buka-buka buku sejarah dan cari tahu senjata apa yang pas di zaman itu. Akhirnya dipilih meriam, bukan AK 47 apalagi bom fosfor putih. Atau pengarang Flash of Wind (namanya lupa, udah ngga pernah baca itu lagi), yang keluar masuk perpustakaan buat cari tahu, cewek-cewek di Jepang jaman samurai (namanya jaman apa? Aku lupa lagi) pake pembalut apa kalau menstruasi soalnya tokoh utama di komik itu si Seizaburo Kamiya adalah perempuan yang menyamar jadi laki-laki dan dia tidak mungkin tidak menghiraukan siklus alami wanita dewasa itu di komiknya.

Mau tahu tidak momen apa yang membuat saya tersadar kembali tentang pentingnya membaca? Saya kasih tau ya. Momen ini beberapa bulan lalu waktu menonton Avatar-Legend of Aang, Book of Fire.

Aang dkk menginap di sebuah penginapan milik nenek-nenek, namanya nenek Hama. Nenek ini memang misterius banget, tipe nenek sihir gitu. Sampai pada akhirnya tersingkaplah bahwa Nenek Hama ini adalah pengendali air. Loh kok bisa? Di negara api lagi!

Nenek Hamapun berceritalah bahwa dia waktu masih muda dulu termasuk salah satu pengendali air yang ditangkap oleh pasukan Negara api waktu mereka menyerang ke Negara air. Dia dan puluhan (atau mungkin ratusan) pengendali air lainnya dibawa ke Negara api dan dipenjarakan. Selama di penjara, mereka diperlakukan dengan “special”. Mereka dijauhkan dari air dan segala hal yang mengandung air, pokoknya penjara diusahakan kering tidak ada air sedikitpun. Kalau mereka minum, tangan dan kaki mereka diikat, biar mereka tidak bisa melakukan pengendalian.

Lantas bagaimana bisa nenek Hama sekarang bebas dan hidup layaknya penduduk negara api yang lain? Ternyata nenek Hama berhasil kabur dari penjara. Wah, ini lebih fantastis lagi, bagaimana bisa?

Saat nenek Hama sudah hampir menyerah dan pasrah dengan keadaan, nenek Hama menemukan sebuah jalan keluar. Dia menemukan air lain, yang tidak terpikirkan oleh para penjaga dan juga saya. Tahukah anda air dari mana? Di penjara yang kering itu? Kalau anda tidak tahu berarti anda kalah setingkat dengan sang penulis cerita.

Nenek Hama menjadi PENGENDALI DARAH (Note: sebenarnya saya berharap anda membacanya tidak dengan nada yang biasa, tapi dengan suara seperti nenek-nenek, dengan intonasi lambat, mencekam, seolah-olah sedang melontarkan sesuatu yang amat penting dan akan mengagetkan semua yang mendengar, biar kesan mistis dan mencekamnya dapet. Dubber-nya nenek Hama soalnya mencontohkan begitu di film)

Ah, saya benar-benar tersentak waktu nonton episode ini dan mendengar nenek Hama bilang PENGENDALI DARAH (masih dengan nada yang tadi ya) begitu. (Anda juga ngga? Kalo ngga berarti postingan ini persis kaya prinsip demokrasi dari saya, oleh saya, untuk saya T_T). Bagaimana mungkin saya tidak berpikir ke arah sana, 60% tubuh manusia kan terdiri dari air (cairan)! Jadi sebenarnya ada banayak sekali air di penjara itu selama masih banyak mahluk hidup berkeliaran. Yah terlepas dari ke-kurang tepat-an penulis karena memilih darah (darah hanyalah mengandung 5% dari total cairan tubuh kita), cukup bisa diterima lah, demi kedramatisan adegan, soalnya kalau nenek Hama mengendalikan cairan intraseluler (yang jumlahnya 2/3 dari total cairan tubuh) saat penyebutannya jadi kurang dramatis, alih-alih penonton merasakan aura ngeri malah pada mengeluh ”euh..pelajaran fisiologi apa lagi ini?!”

Setelah kejadian ini saya jadi tambah nge-fans pada Katara (khusunya Katara sebagai pengendali air) dan merasa bahwa pengendali air-lah yang terhebat karena fisiologi cairan ini berlaku untuk semua orang termasuk semua musuhnya. Sayang Katara tidak mau melakukan pengendalian darah, terlalu sadis. Bahkan Nenek Hama saja akhirnya jadi psikopat. Dan saya agak kecewa waktu Katara kalah dari Azula, mungkin karena saat itu sedang ada komet Sozin, hhh..andai Katara adalah pengendali cairan intraseluler, pasti lebih hebat lagi.

Eniwei, begitulah kawan, yang suka pada ngeblog-ngeblog nih, rajin-rajinlah membaca, biar blognya lebih berbobot. *bicara pada cermin*

Wednesday, January 28, 2009

Ga Cuma Di Pelm India


“cintamu tak harus, miliki diriku” –Dewa (dengan perubahan seenaknya)

Pernah nonton Kuch Kuch Hota Hai) Tau ending nya seperti apa? Saya sama sekali tidak sedang merekomendasikan film itu untuk ditonton (ngga penting juga kok), kalau jawaban 2 pertanyaan tadi adalah tidak, saya akan berbaik hati memberi tahu sedikit. Yang ingin saya soroti bukanlah cinta segitiga antara Rahul, Tina, dan Anjali (ehm, sepertinya banyak yang kecewa, hehe) tapi tentang drama pernikahan Rahul dan Anjali (ending filmnya doang).

Anjali dijodohkan oleh keluarganya dengan Aman (Salman Khan), seorang pria tampan, kaya dan baik hati, pokoknya high quality bujangan lah. Tapi sebenarnya Anjali tidak mencintainya, karena jauh di dalam hatinya, dia mencintai Rahul, sahabatnya di kampus dulu. Rahul juga begitu, mencintai Anjali, meskipun dia baru sadar setelah dia menikah, memilki 1 anak, dan istrinya meninggal, huh, dasar laki-laki!

Di hari-H pernikahan, Aman menyadari bahwa Anjali tidak mencintainya, dan mencintai Rahul dengan amat sangat, akhirnya, dengan tambahan sedikit tipu daya dari anak Rahul yang namanya Anjali juga, Aman membatalkan pernikahannya, menyerahkan Anjali pada Rahul untuk dinikahkan. Dan di tempat itu, pada saat itu, Rahul dan Anjali menikah (sambil nangis-nangis gitu kayanya, hehe)

Sebenarnya kalau saya pribadi memnganggap peristiwa seperti itu sedikit mustahil. Saya kepikiran ”bagaimana dengan keluarga si mantan calon mempelai pria, bagaimana dengan keluarga si akhirnya jadi mempelai pria, atau keluarga si wanita yang dari awal sampe akhir tetep jadi mempelai, bagaimana dengan mahar, seseraha, dan bagaimana dengan tamu?”. Yah, sepertinya kalau tamu tidak terlalu bermasalah sih, asal tetap ada jamuan prasmanan mereka senang kok.

Mungkin sedikit mudah kalau di Hogwarts, seperti momen akhir tahun pertama Potter di sekolah. Waktu itu Slytherin dapat poin asrama tertinggi dan seluruh sekolah sudah siap merayakan. Aula sudah dihiasi dengan warna hijau dan ornamen khas Slytherin yang lain. Tapi tiba-tiba Dumbledore (kalau tidak salah) memberi nilai untuk Harry, Ron, dan Hermione untuk kehebatan mereka dalam perjuangan mendapatkan sorceres stone sehingga poin Gryffindor bertambah dan melampaui poin Slytherin. Otomatis pemenang berubah, dan dekorasipun juga harus dirubah. Maka, hanya dengan satu jentika tangan, hiasan aula berubah, jadi merah, warnanya Gryffindor. Yah, yah, untuk Hogwarts mudah, tapi kita para muggle, tidak segampang itu lah. (Memangnya hiasan pernikahan antara 1 penganten dengan penganten yang lain beda jauh ya? Kayanya ngga juga. Euh..jadi sepertinya permisalan ini tidak terlalu cocok)

Dan tahukah anda? Peristiwa-penggantian-mempelai-secara-tiba-tiba (PPMST2) ini tidak hanya ada di Kuch Kuch Hota Hai, tapi di beberapa film india lain. Sedikitnya ada 3 film india yang punya adegan PPMST2 ini, itupun dari seluruh film india yang saya tonton, mengingat saya tidak banyak menonton film india jadi bisa diprediksikan bahwa PPMST2 ada di lebih banyak lagi film india, tidak cuma 3. Biasanya menonton adegan PPMST2 ini saya akan membatin ”yaelah, dasar pelm india!!”

Tapi tahukah anda, meskipun dari tadi saya menggambarkan betapa hampir mustahilnya adegan PPMST2 ini di dunia nyata, sebenarnya ini pernah terjadi di jaman RasuluLLAH. Yah, meskipun tidak benar-benar persis PPMST2 di kuch kuch hota hai dan film india lain.

Adalah Salman Al Farisi, seorang sahabat pilihan, pahlawan perang Khandaq, yang RasuluLLAH pernah berkata ”Salmanu minal bait. Salman adalah golongan kami, ahlul bait”. Padahal Salman datang dari Farsi.

Suatu hari dia hendak menikah dan memutuskan untuk meminang seorang wanita Anshar yang dirasa pilihan tepat baginya. Tapi Salman bukanlah asli madinah, masih merasa asing di sana, dan agak kagok kalau harus berurusan kultural begini dengan keluarga madinah. Akhirnya Salman menita tolong Abu Darda, orang Anshar yang dipersaudarakan dengannya untuk mewakilinya.

Berangkatlah mereka meminang si gadis madinah. Sesampainya di sana Abu Darda mulai beraksi, menyatakan maksud kedatangan mereka pada bapak si gadis. Tapi tahukah kawan apa jawaban si gadis yang disampaikan lewat perantaraan ibunya. ”Puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.” (sebenarnya jawabannya lebih panjang, tapi saya singkat, maaf) Aih.. si gadis memilih pengantar, bukan si peminang yang sesungguhnya. Tapi, simak jawaban Salman ”ALLAHu akbar!” serunya, ”semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian”
(PS: pilih pengantar jangan keren-keren, atau minimal tidak lebih keren dari anda)



Tuh kan, luar biasa para sahabat itu, amat sangat jauh lebih keren sekali dari Aman, Rahul, Dumbledore apalagi Malfoy. Dengan keimanan, keikhlasan, tawakal, ukhuwah menghadirkan sebuah momen yang saya-pikir-cuma-ada-di-film-india di dunia nyata dengan demikian indah. Ya itulah perlunya melihat segala sesuatu dengan kacamata iman.

So, so, ada yang mau menyerahkan calon mempelai pria nya ke saya? Wakakakak

Kutipan atau apapun lah itu saya ambil dari:
Lagunya Dewa, entah judulnya apa
Film Kuch Kuch Hota Hai dan 2 film india lain, entah judulnya apa
Buku “Jalan Cinta Para Pejuang”, Salim A. Fillah
Buku “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat RasuluLLAH”, Khalid Muh. Walid
Buku “Harry Potter dan Batu bertuah”, J.K. Rowling
Foto dari pro.corbis.com

Monday, December 1, 2008

Belajar Dari Hajar


Kita semua mungkin sudah sangat familiar dengan kisah Hajar dan Ismail di tanah haram. Kisah perjuangan seorang ibu dalam mencari air demi anaknya dan dirinya yang kehausan dan kelaparan di tengah padang tandus. Kisah yang diabadikan dalam salah satu rukun haji, sa’i.

Kalau ada yang belum pernah dengar atau lupa, saya ulang sedikit. Hajar dan bayinya Ismail ditinggalkan di tanah haram yang kering dan tandus oleh suaminya, Ibrahim as. Atas dasar wahyu ALLAH SWT. Setelah bekal air minum dan makanan habis, dan merekapun merasa haus dan kelaparn. Hajar berusaha mencari air. Dengan menaiki bukit shafa, dia berharap dapat melihat sumber air atau orang yang dapat membantu. Tidak berhasil, Hajar naik ke bukit berikutnya, Marwah dengan harapan yang sama. Hajar melakukannya dengan berlari-lari kecil, bolak-balik dari bukit Shafa ke Marwa hingga 7 kali.

Pernahkah anda berpikir kenapa Hajar melakukan hal demikian? Mengapa dia sampai bolak-balik padahal sudah jelas-jelas tidak menemukan air? Sebagain besar orang pasti menjawab karena fatamorgana, karena Hajar menlihat fatamorgana di Marwa, menyangka itu adalah air kemudian dia berlari menghampiri dan tidak menemukan air di sana. Di Marwahpun begitu, melihat fatamorgana di Shafa dan kejadian berulang. Tapi pernahkah anda berpikir, kenapa bisa sampai 7 kali? Ketika anda melakukan kesalahn 1 atau 2 kali, mungkinkah anda melakukannya berulang-ulang hingga 7 kali? Padahal keadaan anda kritis saat itu, mungkinkah?

Jawabannya ada pada percakapan antara Hajar dan Ibrahim as sesaat sebelum Ibrahim as pergi. Setelah Ibrahim selesai membangun sebuah rumah dari dahan pepohonan, meninggalkan bekal secukupnya, Ibrahim as bergegas pergi meninggalkan mereka berdua. Hajar bertanya, ”mau kemana?”, ”aku mau ke Syiria”, jawab Ibrahim as. ”Bagaimana kamu bisam meninggalkan kami di tempat tandus, tidak ada pepohonan, tidak ada air, dan tidak ada teman seorang pun”, protes Hajar, manusiwai sekali bukan? Tetapi Ibrahim as tidak menoleh walaupun Hajar terus memprotesnya. Akhirnya Hajar berkata, ”apakah ALLAH yang telah memerintahkanmu untuk melakukan ini?” Ibrahim mengiyakan. ”kalau begitu, ALLAH sungguh yang akan mengurus kami”

Begitulah. Jawabannya adalah karena tawakkal. Karena seorang Hajar memiliki keyakinan dalam hatinya bahwa ALLAH tidak akan menyia-nyiakannya, ALLAH-lah yang akan mengurusnya, bukan yang lain. Ketika percobaan ke2 dst dalam mencari air Hajar tidak berpikir ”ah, mungkin ini sama saja dengan yang tadi” atau ”ah, tadi juga saya sudah bergini ternyata tidak ada” tapi Hajar terus berlari dengan penuh keyakinan ”pasti ALLAH akan mengurus kami, ALLAHlah yang akan menolong kami di sini”. Tentu berbeda pengejawantahannya ketika hanya memiliki motivasi sedikit, berpikir ”mungkin ada” dengan motivasi kuat dan berkeyakinan mendalam ”pasti ada pertolongan”. Karena tawakkal berarti melimpahkan seluruh urusan pada ALLAH ta’ala. Karena tawakkal lahir dari buah keimanan yang kuat.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita sepenuhnya bertawakkal pada ALLAH? Seperti tawakkalnya ibunda Hajar yang sa’i dalam keadaan kehausan? Atau tawakkalnya ibunda Maryam yang menggoyang pohon kurma tepat setelah melahirkan? Ah, sepertinya saya masih harus terus belajar. Semoga bisa sampai.


Bukankah ALLAH yang mencukupi hambaNya? (Qs Az Zumar:36)


Rujukan:

Al Qur’an Al Karim
Al-Bilali, Abdul Hamid. 2006. Taujih Ruhiyah Pesan-pesan Spiritual Penjernih Hati jilid 1. Jakarta: An Nadwah
Al Hanafi, Muhammad bin Ahmad. 2005. Kisah Para Rasul Hiburan Bagi Orang Yang Berakal. Jakarta: Rihlah Press
gambar diambil dari pro.corbis.com

Wednesday, November 26, 2008

Ada Mahasiswa Ngomongin Guru


Adakah yang tau kapan hari guru? ada yang tidak ngeh kalau sebenarnya kemarin? Kalau seandainya saya tidak memiliki kakak yang seorang guru, yang terpaksa menginap di rumah karena harus berangkat ke sekolah pagi-pagi dan anaknya semaleman menangis keras-keras sehingga membangunkan seisi rumah, mungkin saya tidak akan ngeh kalau kemarin adalah hari guru.

Kenapa saya tiba-tiba bahas ginian? karena menurut saya banyak orang yang tidak tahu kapan hari guru, dan menurut saya juga hal itu karena memang tidak ada yang istimewa di hari guru. Padahal kita semua makan bangku sekolah lebih dari 10 tahun kan? yang selama itu pula, saban hari kita ketemu guru, dan diantara beratus-ratus hari kita sekolah itu ada lebih dari 10 hari guru yang pada saat itu kita bersama guru yang mestinya menjadi spesial karena itu hari mereka. (terlalu ribet ya bahasanya?)

Sepanjang ingatan saya (yang sebenarnya juga tidak bisa terlalu dipercaya) tidak ada perayaan khusus saat hari guru yang diadakan oleh para guru-guru sendiri, bahkan menyuruh murid mereka--yang sebenarnya saya pikir mereka cukup berwenang untuk itu--pun tidak. Dan satu hal yang membuat saya bingung adalah beberapa sekolah melakukan upacara di hari guru dengan para guru sebagai petugas upacaranya. Aneh kan? logika terbalik menurut saya. Sebagai contoh, di hari ibu, idealnya nih, para ibu nyantai seharian, ngga melakukan pekerjaan rumah tangga dsb, nah, kalau boleh disamakan mestinya di hari guru, para guru juga begitu, meskipun tidak nyantai seharian minimal lebih istimewa dibanding hari biasanya lah. Kok ini malah jadi petugas upacara? padahal para siswa saja sebenarnya malas untuk jadi petugas, lah kok ini, guru-guru itu, mau-maunya jadi "kacung" di upacara di hari spesial mereka? Atau jangan-jangan menjadi petugas upacara adalah aktualisasi diri mereka? jangan-jangan kalau lagi upacara dalem hati guru-guru itu mereka berbisik "kapan ya saya bisa ngerek bendera kaya mereka"? Kalau memang begitu faktanya sih, yah guru jadi petugas upacara di hari guru cukup bisa saya terima.

"Tidak bisa mengapresiasi diri sendiri", begitulah kata teman saya seorang calon guru tentang calon profesinya itu. Teman ini berkata demikian karena dia tidak mendapatkan penghargaan yang sebenarnya pantas dia dapatkan setelah menang seleksi mahasiswa berprestasi tingkat universitas (UNJ). Dia bingung melihat respon bahagia kami, teman-temannya yang anak UI, waktu mendengar kabar bahwa dirinya jadi mapres UNJ, karena menurut dia biasa saja. Di UNJ sendiri saja, teman-temannya tidak sebahagia atau semenghargai itu. Memang sih, mapres UI juga tidak sepopuler ketua BEM UI. Mapres UI paling terkenal mungkin shofwan karena dia juga pernah menjabat sebagai anggota MWA UM dan mengakhiri amanahnya dengan cara yang sangat kontroversial. Saya juga tidak ingat apakah ada spanduk ucapan selamat yang dipasang d depan halte UI waktu Mahardika menang tahun ini. Tapi minimal penganugerahan mapres UI dirayakan dengan makan-makan dan ceremony sampai jam 10 malam. Malam yang sungguh sangat prestisius. Dan, menurut teman saya, hal itu tidak ada di universitasnya, pencetak guru-guru. Di sana, hampir tidak ada spesialnya menjadi seorang mapres. Bahkan dia malah jadi sedih melihat kegembiraan kami, karena "orang-orang kampus gue sendiri aja ngga segitunya kaya kalian kok", katanya. Kakak saya yang kuliah di UNJ juga pernah cerita, dulu dia dan teman-temannya sampai membuat leaflet berisi ucapan selamat untuk temannya yang menang kompetisi, karena tidak ada orang lain yang melakukan, termasuk pihak universitas atau fakultas.

Kenapa bisa begitu ya? apakah karena predikat "pahlawan tanpa tanda jasa" sehingga bahkan memberikan tanda jasa untuk diri sendiripun mereka jadi sungkan? Atau karena mereka terlalu low profile dan benar-benar menafikan semua pujian di dunia? Luar biasa kalau begitu.

Untuk para guru yang dengan ikhlas mendidik generasi bangsa..
Untuk para guru yang dengan sabar mengajarkan kami kata demi kata..
Untuk para guru yang dengan cinta menjadikan kami berguna..
Semoga ALLAH membalas kebaikan kalian dengan berlipat ganda..


Friday, November 21, 2008

Terus Mendekati Cahaya


Hewan apa yang khas keluar pada malam hari di musim hujan? yup, rayap. Biasanya hewan ini keluar di malam hari atau menjelang maghrib. Tidak cuma rayap tapi juga bentuk dewasanya, alias laron. Hanya sebentar laron-laron itu hidup, cuma sekitar semalam, biasanya keesokan harinya sudah mati.

"Sebelum kematiannya, dia bergerak mendekati cahaya, keren ya kak filosofi hidupnya" kata seorang adik kelas yang solihah banget. Ziiing..saya terdiam, iya juga ya, dalam beberapa jam setelah dia keluar ke permukaan dunia, laron-laron itu selalu bergerak mendekati cahaya, sebelum akhirnya dia mati beberapa jam kemudian.

Ustadz Elvin pernah bilang, keistiqomahan sesorang dilihat dari akhir hidupnya. Untuk melihat orang ini istiqomah atau tidak, lihat saja akhir hidupnya, dalam keadaan apa, baik atau tidak, dekat dengan ALLAH atau tidak. Kalau saya pribadi, saya ingin menjadi bagian dari orang-orang yang istiqomah, oleh karenanya saya harap akhir hidup saya adalah akhir yang baik, sedang "berada dekat dengan cahaya", seperti laron-laron tadi.

Namun, karena kita tidak pernah tahu kapan akhir kehidupan kita, maka kita tidak bisa dengan mudah mengatur akhir hidup sesuai dengan yang kita inginkan. Oleh karena itu, seharusnya, setiap saat, setiap waktu, kita harus senantiasa bergerak mendekati cahaya, berada dalam lingkaran cahaya, atau berusaha bertahan untuk terus berada di dalamnya. Karena kapan saat pembuktian keistiqomahan kita itu, kita tidak pernah tahu.

Berbekalah untuk hari yang sudah pasti, sungguh kematian adalah muara manusia..

Karena Memang Manusia Itu Unik

setiap manusia itu unik, saya dan anda adalah salah dua nya. tidak pernah ada dua manusia yang sama, baik fisik, psikologi, sosial, spiritual, intelektualfinansial, dll. Tidak pernah ada yang sama persis. menyadari adanya fakta ini, kita semua harus lebih berhati-hati (kadang-kadang jadi ngelesin juga si)karena kita tidak bisa serta merta "pukul rata" terhadap semua orang.

Yang saya ingin angkat tentang keunikan ini adalah yang berkaitan dengan persepsi orang terhadap hal-hal yang menyebalkan. Ah..dikarenakan saya tidak yakin apakah diksi saya tepat di kalimat terakhir saya berikan contoh konkrit saja.

Contoh pertama adalah seorang teman saya di kampus. Dia tidak suka jika ada orang yang bilang "kesian deh lo" padanya. "Kenapa si harus pake ngomong 'kesian deh lo' padahal ga ngomong gitu juga gapapa", katanya suatu hari dengan nada kesal. Padahal kata-kata kesian deh lo itu sudah seperti cape deh bagi anak-anak Jakarta, jadi mau tidak mau kita bakal sering mendengar kata itu. Dan itu berarti si teman saya ini akan sering sekali merasa kesal "kesian amat ni anak" kata saya dalam hati.

Contoh kedua adalah teman SMA saya yang tidak suka dibilang penjahat (ya iyalah hehe). "Kaget aku waktu pe bilang 'penjahat lo Yu', kesannya gimana gitu, kalo jahat doang sih masih mending, tapi kalo penjahat kayanya udah parah banget". Yaah..maaf deh, bagi sebagian (kecil)orang menyebut kata "penjahat" sama biasanya dengan menyebut kata "bedebah" bagi pendekar-pendekar di film Wiro Sableng, sudah sangat biasa bukan?

contoh ketiga adalah teman kampus saya yang lain --dan menurut saya ini fakta paling mengagetkan dibanding 2 contoh di atas-- "gw jijik (menurut dia jijik sama dengan kesel) kalo ada orang sms pake ada kata 'bales' apalagi kalo 'bales asap'. Yeeh..terserah gw dong mau bales itu sms atau ngga, kalo penting juga pasti gw bales tanpa perlu dia minta". Nah lo..banyak kan orang yang suka membubuhi kata BALES di akhir sms-nya? (kalo saya sih amat-sangat-jarang-sekali)

Contoh terakhir adalah saya sendiri. Saya paling tidak suka dengan SMS yang mengandung tanda seru apalagi kalau tanda seru-nya ada di tiap akhir kalimat apalagi kalau ditambah huruf besar segala. Karena bagi saya penggunaan tanda seru dan huruf besar mengisyaratkan kemarahan dan perintah. Hei, siapa anda bisa perintah-perintah dan ngomelin saya? RosuluLLOH saja tidak pernah meng-sms menggunakan tanda seru dan huruf besar pada sahabat-sahabatnya (kalo ngga percaya buka siroh). Lantas siapa anda?

Sudah lebih jelas ekarang apa yang saya maksud? lantas, apa pelajaran yang bisa diambil? Pertama, berhati-hatilah ketika berinteraksi dengan orang lain, kalau ada kata-kata yang baik kenapa menggunakan ejekan? kalau bisa senyum kenapa harus manyun? Karena sreg di hati kita belum tentu sreg di hati orang lain, enak di lidah kita belum tentu enak di lidah orang lain, sempit di badan kita, belum tentu sempit di badan orang lain (anda gendut sih..). Fal yaqul khairan au li yasmut, bicara yang baik atau diam, itu pilihannya.

Kedua, berlapangdadalah dan ber-husnudzhon-lah, akrena menurut anda menyebalkan boleh jadi adalah hal yang biasa bagi orang lain. Saat anda manyun di pojokan karena kesal, teman anda sedang senyum riang sambil berkeliling, bukan karena dia sengaja tapi karena dia memang tidak tahu (dan tentu saja tidak bermaksud). Jadilah asertif, jangan pasif memendam semuanya sendirian, hidup sudah cukup susah, jangan dibuat tambah susah. Katakan apa yang tidak anda suka pada orang yang bersangkutan dengan cara yang baik. Jangan agresif, marah-marah, apalagi sampai SMS seperti ini "Heh PENJAHAT! gw ga suka dengan sikap elo itu tau! Jadi, elo mau merubah sikap elo itu ga? BALES ASAP!", karena kalau begini, cari musuh namanya.

Ok? jadikan hari esok lebih baik ya?

Sekian dari pemikirulung untuk hari ini :)

Thursday, November 20, 2008

Pengennya Ke Lenteng Agung Kok!

abis buka nguping jakarta, entah kenapa tiba-tiba jadi pengen posting ginian

Suatu malam, di perjalanan menuju Pasar Rebo dari Duren Sawit, kami (saya dan boncengan saya) melihat sebuah reklame di pinggir jalan, bunyinya "sekarang nelpon ke Los Angeles lebih murah daripada nelpon ke Lenteng Agung" (kira-kira begitulah)
saya: hahaha, lebay banget tuh iklan
boncengan: iya, kalo kaya gitu bukannya malah ngga laku ya Lud? kan berarti kalo buat nelpon dalem negri jadi lebih mahal
saya: iya, ya, malah jadi males punya gw, orang gw ngga punya temen di Los Angeles, temen gw di Lenteng Agung semua
boncengan: iya, iya
saya&boncengan: hahaha

Tuesday, October 28, 2008

Tipe-tipe Blogger (pemikirulung version), Anda Termasuk Yang Mana?


Terpengaruh beberapa postingan orang lain, akhirnya saya membuat daftar ini, berdasarkan pengalaman dan buah karya pemikiran (tsaah..)saya sendiri.
Setiap blogger tidak harus hanya mewakili satu tipe blogger yang kemukakan, bisa juga merupakan kombinasi.
Bisa kombinasi antara tipe 1, 2 dan 3 itu artinya jawabannya A.
Atau 1 dan 3 artinya B.
2 dan 4 berarti C
Atau E bila benar semua.
Jangan khawatir, tidak ada pengurangan nilai jika jawaban salah, sedangkan jawaban benar poinnya +4. (kok jadi kaya SPMB sih??)

Ok, langsung kita mulai, tipe-tipe blogger menurut pemikirulung

Blogger core competence
Blogger tipe ini mengisi blognya dengan tulisan/artikel sesuai dengan latar belakang pendidikan masing-masing. Misalnya psikolog menulis tentang perilaku manusia, tugas perkembangan, dsb. Dokter menulis tentang patologi, manifestasi klinik suatu penyakit, dsb. Orang IT bikin blog tutorial, dll (apaan lagi ya?)

Blogger curhat forever
Isi blognya cuma seputar curhatan, cerita kejadian sehari-hari yang dialami,dsb. Tapi blogger curhat forever juga bisa dibagi lagi sesuai dengan gaya bercurhatnya. Ada yang sekedar curhat, menjadikan blog sebagai tong sampah, yang penting bisa muntahin unek-unek atau opini di situ, ada yang cerita tapi kemudian menarik hikmah dari pengalaman tersebut dan membaginya, jadi walaupun curhatan tetap bermakna, atau ada yang curhat dengan cara yang lucu, gokil, kocak, dst jadi para pembaca bisa terhibur dengan cerita dia. Saya pikir paling banyak blogger tipe ini. Raditya Dika dan Arham Kendari adalah contoh yang blog gokilnya sukses jadi buku.

Blogger cari duit
Cara cari duitnya bisa macem-macem, bisa masang iklan Adsense, dkk atau memang ngeblog untuk nawarin dagangan misalnya laptop, handy craft, perlengkapan bayi, gorengan, nasi uduk, lontong sayur, dll (yang belakang fiktif, kali aja ada yang terinspirasi). Menurut saya, sah-sah aja jadi blogger macam ini, sambil menyelam minum sirop gitu loh..

Blogger bedebah bikin onar
Seperti namanya, isi blognya pastinya ngga bermutu banget. Isinya kebanyakan porno, bisa gambar atau cerita. Atau penghinaan, fitnah, provokasi terhadap kelompok tertentu. Atau bisa juga kombinasi keduanya, misalnya masang foto porno hasil rekayasa dengan background lambang partai tertentu. Walaupun udah sering di report abuse bareng-bareng kemunculan blog macam ini tetep banyak, kaya jamur di kaki atlet.

Blogger kecelakaan
Sebenernya mereka ngga niat ngeblog, tapi terpaksa bikin account karena sesuatu hal, misalnya gemes pengen komen di blog orang atau sekedar download. Sebenernya orang kaya gini bisa disebut blogger ngga sih? saya juga bingung.

Blogger banci template
Jarang posting, jarang blogwalking juga, tapi rajiiin banget gonta-ganti template. Aktivitas ngeblog yang paling dia suka adalah mengganti template dengan yang lebih bagus lagi (menurut dia)

Blogger soleh dan solehah
Mengisi blognya dengan taujih, tausiyah, hikmah, tafsir Qur'an dsb, bisa juga review dari ceramah yang baru didapet. Atau ada juga hadis-hadis shohih, memberangus bid'ah di masyarakat. Mottonya mirip kaya majalah tarbawi "menuju kesolihah pribadi dan internet"

Blogger gw banget
Bikin blog untuk melampiaskan minat, bakat, kegemaran. Misalnya blogger hobi fotografi cuma meng-upload hasil jepretan di blognya, yang pujangga isi blognya puisi semua, atau bookaholic menuh-menuhin blog dengan review buku.

Blogger anget-anget tai ayam atau angin-anginan
Mereka adalah orang-orang yang komitmennya terhadap dunia per-blog-an perlu ditanyakan (halah). Karakternya persis tahi ayam *maaf*, hangat ketika baru keluar dari kloaka tapi segera dingin setelah angin menerpa. Awal-awal punya blog rajinnya bukan main, dikit-dikit posting, tapi lama-lama jadi males, blog pun dianggurin. Atau angin-anginan, nulis cuma kalau ada angin muson barat berhembus dan berhenti kalau ada angin puting beliung menerjang.

Blogger kesian deh lo
Semangat untuk ngeblog, tulisannya menginspirasi, idenya unik, bahasanya cerdas, dan seabrek keunggulan lain, tapi sayang keberuntungan tidak berpihak padanya. Akses internetnya terbatas, bukan pegawai yang punya fasilitas internet di kantor, bukan istri yang dikasi fasilitas internet sama suami, bukan anak yang dibekeli internet sama bapaknya, bukan pekerja yang punya gaji jadi bisa pasang internet di rumah, bukan mahasiswa yang punya laptop jadi bisa hotspot-an dimana-mana. Pokoknya ngga bisa ngenet sepuasnya. Untuk ngenet mereka mesti ngintip labkom buka atau tidak, nyikut temen buat gantian make komputer perpus, atau ngenet di warnet sambil ketar-ketir membandingkan billing warnet dengan duit di kantong atau sibuk mikir apakah billing warnet bisa dibayar pake tenaga mencuci piring.

Blogger all bout world
Blog-nya bermakna banget, banyak info disini. Si-empunya blog memang niat begitu sih. Ada info baru di share, ada ilmu baru di share, ada pengetahuan baru juga di share. Di blog-blog macem ini kita jadi tau apa sebenarnya "Trebuchet", dari mana asal kata "alabama", siapa Tan Malaka, Obama lagi ngapain, sampe siapa kira-kira yang akan memenangkan perebutan harta warisan Ratu Horor Suzana.

Nah, itulah tipe-tipe blogger Indonesia, merasa bagian dari mereka? kalau masih ngga ngerasa juga, menganggap poin-poin di atas tidak mewakili anda, berarti anda masuk ke kategori blogger terakhir:
Blogger keras kepala ngga mau ngaku juga

~Selamat Hari Blogger Nasional (27 November) maaf telat

Thursday, October 23, 2008

Bangunlah Kalian Para Ayam


~mengutip taujih seorang ustadz sekitar dua pekan yang lalu

Alkisah, suatu hari ada seorang anak yang berjalan-jalan di dalam hutan (hm..maaf kalau agak kurang masuk akal hehe), tiba-tiba langkah anak tersebut terhenti. Dia melihat di depannya tergeletak sebuah telur, cuma sebuah. Akhirnya telur itupun dibawanya pulang (namanya juga anak-anak)

Sesampainya di rumah, telur tersebut dia letakkan di dalam kandang ayam dirumahnya yang sedang mengeram. (anggap saja ayah atau kakek anak tersebut hobi beternak ayam dan kebetulan ayamnya sedang mengeram saat itu) Anak itu tidak pernah tahu telur apa sebenarnya itu, dan mungkin anak itupun tidak pernah berpikir jauh. Akhirnya telur yang sebenarnya telur elang itupun dierami oleh induk ayam.

Beberapa pekan kemudian (untuk info aja, telor ayam menetas setelah 21 hari), telur-telur itu menetas, termasuk si telur titipan. Anak-anak ayam itupun tumbuh, hidup, bersama anak elang sebagaimana biasanya hidup ayam-ayam yang lain.

Selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu mereka hidup bersama, menjalani kehidupan sebagai anak ayam. Merasakan pahitnya dan kerasnya kehidupan dunia, tanpa ada kecurigaan "elo anak siapa?", "lo lahir dimana?", "dulu ketuker ngga di rumah sakit", dsb. Si anak elangpun sudah merasa sebagai anak ayam, ruhnya adalah ruh ayam muda.

Saat sedang asik-asik mencari makan, nyeker-nyeker di tanah, tiba-tiba ada seekor burung melintas, sebenarnya mengincar anak-anak ayam tersebut. Si anak elang, kagum melihat kegagahan burung tersebut bertanya pada saudara angkatnya
(sebagai catatan, mereka berbicara dalam bahasa ayam, cuma saya takut anda tidak mengerti, jadi atas kebaikan hati saya, sudah saya terjemahkan ke bahasa manusia)
"eh, apaan tuh, yang barusan terbang di atas kita?"
"itu elang"
"ooh elang, hebat sekali, bisa terbang, kenapa kita tidak bisa?"
"yaiyalah, kita kan ayam, ngga bisa terbang, kalau elang, dia burung makanya bisa terbang"
"tapi kita juga punya sayap, kalau kita belajar apakah kita bisa terbang seperti dia?"
"ya enggaklah, sayap kita kan beda sama dia, bahasa sederhananya anatomi dan fisiologi tubuh kita berbeda, jadi ngga mungkin kita bisa terbang kaya dia"
"oooh begitu ya.."
"iya, udah jangan bengong aja ente, mending ikutan kabur bareng sodara-sodara kita yang laen, salah-salah kita bisa disamber sama tu elang"
"oh, oke deh.."
mereka berdua pun berlari, menghindar dari sergapan si elang.

Begitulah, sampai akhir hidupnya(ngga perlu saya ceritakan detail kan?) si anak elang tumbuh sebagai seekor ayam, tanpa pernah tahu dan tanpa pernah mencoba untuk menjadi seekor elang, yang bisa terbang tinggi dengan gagahnya. Si anak elang terjebak dalam pikiran "gw cuma anak ayam", tanpa pernah melebarkan sayapnya, mengasah kemampuannya, dan merasakan terpaan angin, merasakan udara menyelip diantara bulu-bulunya ketika membumbung di angkasa.

Lantas bagaimana dengan kita? sebenarnya siapa kita? apakah anak ayam yang seperti selama ini kita pikir? atau sebenarnya kita adalah elang, yang tanpa sengaja hidup di kerumunan ayam? kenapa kita masih saja jadi anak ayam yang cuma bisa berlari di atas tanah, saat elang-elang lain sudah mengangkasa?

Bangunlah kalian para ayam, bentangkan sayapmu, asah kemampuanmu, mari kita terbang dengan lebih tinggi lagi, bahkan lebih tinggi dari elang lainnya..

foto diambil dari pro.corbis.com, bukan ayam, bukan elang, bebek kayanya hehe

Wednesday, September 17, 2008

Ketika Rezeki Itu Tidak Jadi Mampir


Dulu, di rumah ada pajangan, yang masang mba-mbaku yang solehah. Pajangannya sederhana, Cuma lembaran tausiyah dari majalah yang dibingkai (gw juga bingung, sekarang pajangan-pajangan itu pada kemana ya? Tiba-tiba pada ngilang). Salah satu pajangan, judulnya Kunci Zuhud, di situ tertulis salah satu kunci zuhud adalah “Aku tahu rizkiku tak mungkin diambil orang lain, karenanya hatiku tenang”.

Dari kecil, saya mencoba menginternalisasi nilai itu, bahwa setiap rejeki kita, tidak mungkin salah tempat, tidak ,mungkin jatuh ke tangan orang lain. Dengan begitu maka ketika kita mengalami kejadian luar biasa seperti kehilangan uang, kehilangan benda berharga, atau kehilangan kesempatan untuk mendapatkan uang dsb kita akan lebih mudah menerima dan ridho dengannya.

Begitupun di buku 5 Taujih Ruhiyah Untuk Aktivis Dakwah dan Harakah, buku yang entah sudah berapa kali saya baca –judulnya emang kesannya berat banget, tapi isinya bagus kok—di situ tertulis bahwa satu bekal keimanan seorang aktivis dakwah adalah ketika meyakini rejeki berada di tangan ALLAH. Apabila ALLAH telah menetapkan rejeki terhadap hambaNya maka tiada yang sanggup menghalanginya. Sebaliknya, apabila ALLAH tidak menghendaki rezeki atas hambaNya, maka tiada yang sanggup memberinya. Tak seorangpun meninggal dunia kecuali telah disempurnakan rezeki dan ajalnya. Efeknya, masih menurut menurut buku ini, seorang aktivis akan memiliki sifat kedewasaan, kasih sayang, itsar, bebas dari perbudakan nafsu dunia, rakus, egois, bakhil dan yang sangat penting adalah senantiasa bersyukur atas apa yang telah ALLAH karuniakan.

Tapi ternyata mengamalkannya tidak mudah juga. Mungkin mudah bagi kita berkoar-koar menasehati orang lain agar begini-begitu, tapi ketika kita dihadapkan dengan masalah yang aktual, here and now, ternyata responnya tidak selalu seperti yang seharusnya dilakukan.


Bertemu dengan kejadian seperti ini, suatu hal yang erat kaitannya dengan kehilangan sesuatu yang saya pikir akan jadi rezeki saya, ternyata proses penerimaannya tetap saja sulit, masih harus melewati deny, anger, bargain, bahkan depression juga. Dan ketika saya memandang diri sendiri yang susah hati begini jadi membuat saya berkontemplasi apakah memang stock keimanan yang saya miliki tidak cukup? Sehingga bahan bakar keimanan itu tidak dapat menyalakan tungku keridhoan? Hal yang juga sangat berbahaya adalah ketika akhirnya ke-susah-hati-an kita (atau saya) menuju ke arah ketidaksyukuran atau bahkan kufur nikmat, masya ALLAH. Alih-alih mendapatkan rezeki, malah azab ALLAH yang datang. Oleh karena itu, dari dulu sampai sekarang doa ini menjadi salah satu doa favorit saya, doa yang diajarkan RasuluLLAH SAW pada sahabatnya Mu’adz bin Jabal
ALLAHumma a’inni ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik
Ya ALLAH bantulah aku untuk senantiasa mengingat dan bersyukur kepadaMu serta beribadah dengan baik

Karena memang benarlah, pada akhirnya hanya pada ALLAH saja saya dapat meminta pertolongan termasuk dalam rangka agar senantiasa bersyukur kepadaNya. Karena Dialah penggenggam hati kita bukan? Semoga saya (dan anda semua) menjadi bagian dari hamba-hambaNya yang senantiasa bersyukur.



gambar diambil dari pro.corbis.com

Friday, September 5, 2008

Tak Kunjung Dicinta Karena Buruk Rupa


Apakah sama-sama memiliki kecantikan atau ketampanan fisik menjamin kelanggengan sebuah pasangan? Apakah orang yang cantik dan tampan lebih mudah dicintai dibandingkan dengan orang yang tidak demikian? Jawabannya mungkin belum tentu. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa penampilan fisik menjadi salah satu alasan untuk tertarik pada orang lain (baca: lawan jenis). Tertarik dengan kecantikan atau ketampanan juga menjadi salah satu alasan untuk mencintai orang lain.

Tapi apakah cinta karena dirinya cantik atau tampan akan berlangsung terus menerus? sepanjang masa (kalau akhirnya) hidup bersama? Lagi-lagi jawabannya tidak juga. Seorang teman pernah bilang pada saya, memang ketertarikan pada penampilan fisik itu diperlukan, bisa menumbuhkan rasa suka, tapi itu hanya di awal hubungan karena nati hal itu akan berubah, semua itu akan menjadi nomor sekian setelah sika, prilaku, dll. Seorang istri yang amat cantik tidak akan lagi dianggap begitu jika perilakunya tidak menyenangkan suaminya. Atau seorang suami tampan tidak akan lagi terlihat tampan jika sikapnya tidak menyejukkan dan begitu berkenan di hati kita.

Tapi lagi-lagi saya ingin bertanya, apakah teori ini terjadi pada semua pasangan? jawabannya pun lagi-lagi tidak. Di buku catatan hati sorang istri, Asma Nadia bercerita ada seorang suami yang masih tidak bisa mencintai istrinya setelah bertahun-tahun menikah dan memiliki 4 orang anak karena istrinya sama sekali tidak cantik. Hidup selama bertahun-tahun bersama dan saya yakin sudah banyak kebaikan pada istrinya yang dia lihat tidak kunjung membuatnya jatuh cinta, hanya karena, sekali lagi, istrinya sama sekali tidak cantik. Di akhir cerita Asma Nadia menulis ingin sekali meninju pria itu.


Beberapa pekan lalu Ust Abdul Azis menceritakan kisah serupa, tapi kali ini diangkat dengan sudut pandang berbeda sungguh luar biasa. dalam kajian yang bertemakan "Hidup di Bawah Naungan Qur'an", ustadz berkisah tentang seorang pria. Dulu, hiduplah seorang pria. Pria ini memiliki kedudukan yang baik di masyarakatnya, da'wahnya begitu mudah diterima, kata-katanya begitu didengar, pendapatnya begitu diperhatikan, saran-sarannya diminta, bahasa sederhananya "dekat di hati masyarakat". Sampai-sampai ada seseorang penasaran apa rahasianya sehingga dia memiliki keistimewaan demikian. Akhirnya ditanyakanlah pada orang tersebut, tapi setiap kali ditanya, setiap kali pula orang tersebut tidak mau memberitahukan rahasianya. Namun setelah berkali-kali ditanya, akhirnya diapun luluh dan mau menjawab "baiklah saya beritahu, tapi ini rahasia, jangan diberitahukan kepada orang lain, kau baru boleh memberitahukannya setelah aku meninggal" begitu syaratnya. Orang tersebut bercerita bahwa dia memiliki seorang istri, tapi dia tidak suka pada istrinya karena rupa istrinya yang amat tidak cantik, bahkan setelah 19 tahun menikah, perasaannya tetap tidak berubah. Tapi kemudian dirinya bersabar karena semata-mata mengingat firman ALLAH SWT dalam QS 4:19 "Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal ALLAH menjadikan kebaikan yang banyak padanya." Begitulah, karena motivasi pria ini adalah menjalankan perintah ALLAH dalam Al Qur'an, maka ALLAH pun memberi balasan kebaikan untuknya.

Meskipun dalam kapasitas kita sebgai manusia besar kemungkinan kita akan kesal mendapati pria (atau mungkin juga wanita macam ini). Adik kelas saya, yang saya tunjukkan tulisan ini saja berkata dengan wajah sedihnya "ga kebayang gimana perasaan istrinya kalau tahu". Atau mungkin saya akan memilih membantu Mba Asma meninju pria macam ini. Tapi apalah artinya penilaian kita sebagai manusia kalau ALLAH saja begitu menghargai pria ini (pria dalam kasus ke-2) yang menyimpan rapat-rapat perasaannya, menjaga perasaan istrinya dan mengembalikannya pada ALLAH saja. Ternyata benarlah, jika kita hidup di bawah naungan Qur'an, semuanya pasti lebih indah.

gambal diambil dari pro.corbis.com

Kawan-kawan Penghormat Privasi

Setiap orang pasti punya hal-hal pribadi dalam hidupnya. Ada hal-hal yang sifatnya privasi dan tidak bisa dikonsumsi bersama. Banyak rahasia yang rapat-rapat disimpan dan cukup diketahui berdua, dirinya dan Tuhannya. Serta tidak semua pertanyaan orang lain bisa diberikan jawabannya.

Tapi sepertinya sudah fitrahnya manusia, cenderung merasa penasara jika mencium aroma rahasia. Mengorek keterangan yang disimpan rapat-rapat menjadi sebuah tantangan yang perlu ditaklukan dengan perkasa. Bertanya "ada apa si?", "memang kenapa si?", dan "siapa si?" terus dilontarkan dengan gencarnya.

Beruntunglah saya ternyata tidak semua orang demikian. Masih ada orang-orang yang mendengar info menggelitik sedikit tidak kemudian penasaran. Berhenti bertanya jika jawabannya hanya diam. Mengetahui rahasia atau urusan orang lain tidak dijadikan tujuan.



Kagum dan terima kasih saya pada orang yang melihat air mata meleleh di pipi tidak bertanya dengan berapi-api "apa yang sudah terjadi?". Penghargaan saya untuk orang yang dijawab "ada deh, maaf tidak bisa diceritakan" berhenti bertanya dan menghormati. Hormat saya untuk orang yang tidak bertanya macam-macam ketika yang bersangkutan terlihat tidak ingin berbagi. Simpati saya untuk orang yang menekan perasaan dan memilih menghargai privasi.

~untuk dua orang kawan ikhwan, rekan syuro saya beberapa hari yang lalu, yang memilih untuk tidak bertanya apa-apa dan melanjutkan syuro sebagaimana mestinya demi menjaga privasi kawan saya yang lain, kagum saya pada kalian berdua...

Monday, September 1, 2008

Nikmatnya Ramadhan Pagi Ini

Paru-parumu masih dapat mengembang dan terisi udara lagi

Otot jantungmu masih dapat memompa darah ke seluruh arteri

Batang otakmu masih berfungsi sehingga kau tidak di vonis mati

Rejekimu masih mengalir sehingga kau masih mendapatkan santap sahur tadi pagi

Sarafmu masih berfungsi sehingga kau bisa mempersepsikan berbagai sensori

Maka..

Masih pantaskah kau berkeluh kesah hari ini?

Dengan kesempatan yang ALLOH berikan untuk menikmati jamuan Ramadhan tahun ini?

Bersyukurlah saudaraku, dan tersenyumlah

Jangan buat Ramadhan kita kecewa lagi

(gaya tulisan gw udah kaya Om Aidh Al Qorni belom?)

Friday, August 29, 2008

Satu-satu Gw Beresin

Mulai sekarang, blog ini akan saya kelola dengan lebih benar. Setelah masuk ke blogger lebih mudah, saya jadi berpikir untuk memulai lagi aktivitas nge-blog di sini. Tapi akhirnya terbentur dengan keterbatasan saya dalam hal mengedit dan sebagainya. Makanya template pun amat sederhana sekali. Sebenarnya sudah ada teman yang bersedia bantu "mengacak-acak" tapi berhubung dia sibuk, dan saya tidak terlalu suka jadi "tangan di bawah" maka saya bertekad akan melakukannya sendiri.

Oke..dimulai dengan adanya read more..yang akhirnya berhasi diadakan..hufff....dan selanjutnya

akan saya tambahkan hal-hal lain (sebenernya juga belom tau apaan aja). Baiklah..mari kita ramaikan blog yang sepi kaya kuburan ini. (bahkan kuburan di deket rumah gw juga ga sepi-sepi amat kaya gini lo..)

Semangat!! gaya superman mau terbang tapi ga pake celana dalem di luar hehehe

Tuesday, August 5, 2008

Spesial Untuk Yang Tidak Lolos SPMB -atau apapun namanya sekarang-

Waktu masih SMA, ketika mendengar atau berkenalan dengan orang yang tidak lolos SPMB (TL SPMB) saya langsung berpikir "ini orang pasti ga pinter". Tapi persepsi itu langsung berubah ketika saya mengalaminya sendiri di tahun 2004. Bukannya karena saya tidak mau dibilang tidak pintar -karena saya memang pintar hehe- tapi karena saya bisa melihatnya lebih dekat, dengan sudut pandang yang berbeda pula.

Seringkali orang menilai keberhasilannya belajar di SMA adalah dengan kelolosannya di SPMB. Waktu MOS (Masa Orientasi Sekolah) SMA seorang teman sekelas menjawab "biar diterima di PTN" waktu ditanya kenapa memilih SMA ini. Seorang senior di REMAS (ekskul saya waktu SMA) menilai salah satu prestasi REMAS dan menyampaikannya ke adik-adik kami yang masih SMA dengan presentase anggota REMAS angkatannya yang lolos SPMB, saya yang mendengarnya agak risih dan berbisik ke teman saya yang juga TL SPMB "kita cuma beban statistik ya pi". Makanya tak heran kalau sampai ada seorang teman kelas 3 dulu, yang TL SPMB dan akhirnya masuk PTS, malu untuk datang reuni karena merasa inferior dibanding teman-teman sekelas yang lain.

Tahun 2004, ketika saya tidak menemukan nama saya di koran, saya merasa kaget dan tidak percaya apalagi skor SPMB saya --dicek di NF-- tidak pernah di bawah 750. Dan skor saya itu masih lebih tinggi dibanding teman-teman yang namanya tercantum di koran. Tapi akhirnya saya bisa menerima, setelah saya membuat list hal-hal yang jadi bisa saya lakukan karena TL SPMB, mengingat orang-orang yang saya kenal yang juga TL SPMB dan menyadari bahwa teman senasib saya lebih banyak dibandingkan yang lolos.

Meskipun saya akhirnya lolos di tahun 2005 tapi saya tetap merasa lebih dekat dengan orang-orang yang TL SPMB. Mungkin kalau di sebuah acara, orang-orang yang ada di situ diminta memisahkan diri antara yang lolos dan TL SPMB, saya secara otomatis akan bergerak ke barisan TL SPMB. Bukan karena tidak bersyukur, tapi karena memang kegagalan itu banyak memberi kesan untuk saya.

Tanggal 1 kemarin, saya begitu merasa tersentuh melihat iklan sebuah produk teh di koran yang mencantumkan kelulusan. Di situ ditulis daftar plan dengan plan pertama yang bertuliskan lolos SPMB yang dicoret dan tulisan di pojok kiri bawah "apapun rencananya yang penting serius ngejalaninnya" (kira-kira begitu redaksinya). Saya jadi bernostalgia ke hari-hari di Agustus 2004.


TL SPMB bukanlah hal yang hina, tidak membuat kita lebih rendah dari orang lain, tidak membuat hidup kita berakhir dan menutup peluang keberhasilan di masa depan. Kegagalan adalah sebuah tarbiyah dari ALLAH. Kegagalan seringkali membuat kita lebih dewasa, membuat kita kembali menunduk ke bumi dan menyadari bahwa hidup ini tidak sendiri dan ada orang-orang lain yang lebih utama dari kita. Kegagalan juga membuat kita lebih menikmati keberhasilan ketika memperolehnya.

Maka, untuk teman-teman yang diberi hadiah oleh ALLAH dengan kelolosan di SPMB, janganlah memandang orang yang TL SPMB lebih rendah dan merasa lebih mulia dari mereka. Cobalah untuk berempati karena ada seorang teman yang sampai BT setengah mati pada temannya yang selalu menceritakan dengan berlebih-lebihan tentang kehidupan kampus dan hari-harinya sebagai mahasiswa baru di depan dirinya yang TL SPMB. Padahal, keberhasilan kalian sesungguhnya tidak ada apa-apanya tanpa pertolongan ALLAH.

Meminjam kata-kata Sherina "Lihatlah lebih dekat dan kau akan mengerti"

Monday, June 23, 2008

Jangan Selalu Berkata “I wanna be myself”

“Tidak bisa memperlakukan orang lain dengan baik”, itulah sebuah vonis seorang teman untuk saya. Konsep diri saya runtuh seketika. Mengetahui bahwa dalam lebih dari 20 tahun kehidupan tidak memperlakukan orang lain dengan baik sungguh pukulan besar.

Sesampainya di rumah (teman saya mengatakan itu di kampus), saya hanya di dalam kamar dan menangis. Kata-kata “tidak bisa memperlakukan orang lain dengan baik” terngiang-ngiang. Ketika saya menyadari kenapa saya begitu gampang down seperti ini dan saya bertanya-tanya apa yang harus saya lakukan, saya SMS seorang teman psikologi dan dia menyarankan agar saya mencari bantuan professional (huf..)

Tapi sungguh bukan itu yang akan saya bahas disini. Yang akan saya bahas adalah jawaban dari seorang teman bijak saya.

Keesokan harinya, ditengah ketakutan dan kemalasan saya untuk berinteraksi dengan orang lain, karena saya takut salah lagi, ditengah keengganan saya untuk hadir dalam forum atau acara sebagai orang yang banyak berbicara, ditengah rencana saya untuk kalaupun saya harus hadir, saya cukup menempatkan diri sebagai figuran, duduk manis mendengarkan, saya SMS seorang teman. Saya tanya padanya benarkah saya tidak memperlakukan orang lain dengan baik. Ternyata teman saya tidak membantah, dia membalas “untuk orang-orang yang perasa dan sensitive bisa jadi seperti itu. Tapi gw kan bukan tipe kaya gitu”. Sayapun balas “ho..jadi bener ya.hh..gw nangis-nangis semalem mikirinnya, jadi males berinteraksi dengan orang lain, karena gw takut salah terus”
Teman sayapun balas lagi “Ya ALLAH Pe..kadang kita emang harus nangis dulu untuk berbenah diri..Intinya jangan selalu berkata ‘I wanna be myself’ karena kita emang manusia yang banyak salah dan dosa..kadang kita juga harus liat dari mata dan dengar dari telinga orang lain untuk tau siapa kita. Tapi be grateful anyway..bersyukurlah!”

Luar biasa memang teman saya satu ini. Seringkali saya dinasehati untuk menjadi diri sendiri. Tapi kemudian saya teringat dengan judul blog ini. Kalau memang diri ini masih banyak kekurangan, lantas kenapa kita hanya mau menjadi diri sendiri. Kenapa kita tidak ingin menjadi setegar Sumayyah, secerdas ‘Aisyah, setangguh Nusaibah, kenapa kita hanya membatasi dengan menjadi diri sendiri?

Terimakasih untuk teman-teman yang tidak hanya mengkritik, tapi kemudian memberi solusi. Terimakasih untuk teman-teman yang tidak hanya melihat aib, tapi kemudian menasehati. Terimakasih untuk teman-teman yang masih menjadi bintang di langit kehidupan saya.

“Andai bukan karena bangun di waktu sahur dan berteman dengan orang-orang baik, niscaya aku tidak mau memilih tinggal di dunia ini” (Imam Syafi’i rahimahuLLAH)