Mengasuh dan membesarkan anak bukanlah perkara mudah, apalagi kalau targetnya bukan sekedar membesarkan tapi ingin membentuk generasi yang lebih baik dari kita. Sayangnya perkara tidak mudah ini tidak ada pendidikan khususnya. Tidak ada instansi pendidikan manapun yang memiliki kekhususan pendidikan untuk orang tua.
Menurutku, membesarkan anak (dengan targetan membentuk generasi yang lebih baik) sama seperti keperawatan, merupakan kumpulan art and science. Karena setiap anak itu memiliki keunikan masing-masing maka kadang penerapan untuk anak yang satu belum tentu pas dengan anak yang lain, tidak hanya menggunakan science tapi juga art untuk penyesuaiannya.
Begitu kompleksnya mengasuh anak sampai menuntun anak di pinggir jalan juga ada ilmunya lho pak, bu. Seharusnya kalau berjalan berdua dengan anak di pinggir jalan (yang dilalui kendaraan) maka jangan tempatkan anak di sisi yang berbatasan langsung dengan jalan. Kelihatannya sepele, tapi cukup penting lho, dan ternyata banyak orang tua yang tidak "ngeh" dengan hal ini.
Sebagai seorang pengendara, saya jadi sering was-was (kalau bahasa orang rumah teratapan) kalau melintas di jalan yang pinggirnya ada anak-orangtua yang berjalan dengan posisi yang salah. Seringkali diperparah dengan posisi mereka yang terlalu ke "tengah".Kalau seandainya terjadi sesuatu maka yang terkena bahaya adalah sang anak, terserempet atau bahkan tertabrak. Seharusnya orangtua, yang bertanggung jawab melindungi anaknya, berjalan di antara sang anak dan jalan raya jadi kalu ada apa-apa si orang tua yang kenyataannya lebih kuat, sigap, aware, bisa jadi "tameng" untuk anaknya.
Saya jadi ingat peristiwa ditembakinya Al Durra dan ayahnya oleh tentara Israel didepan wartawan-wartawan. Durra ditempatkan ayahnya ditengah antara tembok pendek dan dirinya dengan asumsi Durra jadi terlindung dari dua sisi. Meskipun akhirnya Durra meninggal dan ayahnya selamat, tapi setidaknya sang ayah sudah berusaha keras melindungi anaknya. (Aduh, saya jadi pengen nangis kalo inget peristiwa ini)
Jadi bapak ibu sekalian, mulai saat ini, jika anda pejalan kaki atau mengalami kesempatan utuk berjalan kaki, mulailah untuk menuntun anak dengan posisi yang benar. Jangan sampai suatu saat anda menyesal hanya karena berjalan di posisi yang salah atau sibuk menyalahkan pengendara yang tidak kalah teledor dari anda sebenarnya.
Tidak ada satupun manusia yang sempurna, yang ada adalah manusia yang senantiasa memperbaiki diri..termasuk saya, semoga..
Thursday, December 6, 2007
Tips Menghilangkan Ngantuk Saat Ceramah/Kuliah/Materi
Adalah hal yang manusiawi kalo kita jadi ngantuk kalo mendengarkan ceramah, kuliah atau materi. Apalagi kalau dari awal kita kurang tertarik dengan yang disampaikan, dan diperarah dengan gaya penyampaian yang monoton. Berikut tips buat menghilangkan ngantuk, berdasarkan pengalaman pribadi
Segitu dulu deh, kapan-kapan ditambahin lagi kalo inget atau dapet cara baru. Silakan mencoba, jangan diliat dari bumbunya, liat dari main topicnya
- Baca ta'awudz, istighfar, mohon pada Allah untuk dijauhkan dari godaan syetan karena syetan ngga suka ngeliat kita beribadah, makanya dia mencoba menghalangi dengan membuat kita ngantuk. Bisa juga minta beberapa orang membaca ayat kursiy, lebih bagus lagi kalau dipimpin oleh pembicaranya langsung.
- Anggap hal yang sedang disampaikan adalah hal yang sangat menarik, terserah gimana caranya, coba inget pengalaman pribadi yang mungkin nyambung dengan pembicaraan (cara yang susah sebenernya) Bisa juga bayangkan bahwa pembicara adalah magnet dan anda adalah peniti, atau pembicara adalah kerbau dan anda adalah bajak, atau hal yang biasanya tarik-menarik lainnya.
- Sibukkan diri, jangan cuma diem dengerin pembicara. Coba nyatet, atau nulis-nulis apalah, ngitung utang, makan kuaci, nyari kutu di kepala temen bisa jadi alternatif.
- Keluar sebentar, coba jalan-jalan beberapa meter. Liat-liat kelas lain, liat parkiran ngecek motor masih ada apa ngga, atau liat kantin kali aja ada yang jaga butuh bantuan ngulek bumbu. Tapi jangan jalan ke labkom atau perpus, apalagi kalo disana ada internet nganggur, karena anda bisa nyangkut dan ngga balik ke kelas lagi. Tapi kalaupun anda nyangkut, ngantuk anda pasti ilang dan ngga muncul lagi.
- Cobalah mengobrol sedikit dengan orang sebelah, obrolin hal-hal menarik atau sedikit lucu, buat penyegaran. Atau bisa juga diskusikan sedikit apa yang pembicara barusan sampaikan. Jangan kepanjangan, nanti anda bisa didaulat untuk menggantikan pembicara di depan, juga jangan kekencengan nanti anda disangka lagi orasi di depan gedung DPR.
- Keluar sebentar dan lakukan aktivitas fisik, misalnya lari-lari ngelilingin lapangan (gw pernah melakukannya, beneran!) Begitu selesai dan kita balik lagi ke ruangan, kita ngga bakalan sempet ngantuk lagi, karena kita akan sibuk kipas-kipas atau ngelap-ngelap keringet yang berucucuran.
- Ngga usah cuci muka, aku sangat tidak menyarankan, karena biasanya kalau aku pribadi ngga mempan dengan cara ini, ngantuknya tetep nempel. Kecuali kalo sebelum nyuci muka kita nguras bak mandi atau nyikatin kloset dulu, itu lain perkara. Atau lebih heboh lagi air yang kita pake nyuci muka kita dapet dari 7 sumur yang berbeda, ditambah dengan kembang 7 rupa yang didapat dari 7 taman, dengan sabun dari 7 merk yang berbeda.
- Sambi dengan ngemil atau makan, tapi bukan sembarang makanan. Cari makanan yang keras (yang mecahinnya aja pake tang atau linggis) atau makanan yang pedas (yang bisa bikin mulut anda mengeluarkan api saking pedasnya)
- Minta teman sebelah anda untuk mengagetkan anda. Minta dikagetkan di saat yang tepat, saat diamana anda benar-benar akan jatuh tertidur, trus pilih orang yang bisa mengagetkan dengan baik karena biasanya temen-temenku pada ngga tegaan kalo diminta ngagetin yang ada mereka bukannya ngagetin malah menambah inspirasi baru buat mimpi anda nantinya. Lebih bagus lagi kalau teman anda mengagetkannya ngga cuma bermodal mulut tapi juga alat yang berisik kaya kentongan, sirine, peluit, atau bayi yang dicubit.
Segitu dulu deh, kapan-kapan ditambahin lagi kalo inget atau dapet cara baru. Silakan mencoba, jangan diliat dari bumbunya, liat dari main topicnya
Monday, November 12, 2007
Tips Penting Buat Pembicara Dadakan
Tiga hari kemarin aku ikut acara pelatihan yang diadain BEM UI, tahukah anda, beberapa (aku ngga inget jumlah pastinya) dari pembicara memulai pembicaraannya dengan bilang "maaf kalau penyampaiannya saya ada yang kurang" atau "maaf kalau saya kurang persiapan" "karena saya baru dihubungi panitia semalam"
Bisakah anda bayangkan jika anda berada di posisi audiens saat itu? pasti jadi ngga semangat dan berpikir "yah" atau "huh" (seenggaknya gw begini). Bahkan ada seorang peserta yang ngeluh "dari kemarin begitu terus"
Nah, sodara-sodara yang mungkin suatu saat jadi pembicara dadakan, jadi ban serep, jadi akar (karena ngga ada rotan), kuberi tips penting! Jangan katakan itu diawal pembicaraan di depan audiens!
Ini menjadi sangat penting karena kata-kata itu dapat menurunkan semangat audiens, dan kalau udah ngga semangat, jadi kurang menyimak dan lebih parah, ngga mudeng sama yang diomongin. Bersikaplah seolah memang andalah pembicara yang direncanakan sejak awal, usahakan audiens tidak tahu.
Pemberitahuan bahwa anda baru dihubungi dsb bisa disampaikan di akhir pembicaraan. Dan sekali lagi tahukah anda dengan disampaikan hal ini di akhir justru dapat membuat audiens anda terpukau dan mereka jadi berpikir "gile, serepnya aja begini bagus, gimana pembicaranya aslinya" (ini bisa terjadi kalau anda benar-benar menyampaikan materi dengan bagus)
Nah, tips yang lumayan bagus kan? ampuh lho..
~ngga biasa jadi pembicara, biasa jadi audiens
Bisakah anda bayangkan jika anda berada di posisi audiens saat itu? pasti jadi ngga semangat dan berpikir "yah" atau "huh" (seenggaknya gw begini). Bahkan ada seorang peserta yang ngeluh "dari kemarin begitu terus"
Nah, sodara-sodara yang mungkin suatu saat jadi pembicara dadakan, jadi ban serep, jadi akar (karena ngga ada rotan), kuberi tips penting! Jangan katakan itu diawal pembicaraan di depan audiens!
Ini menjadi sangat penting karena kata-kata itu dapat menurunkan semangat audiens, dan kalau udah ngga semangat, jadi kurang menyimak dan lebih parah, ngga mudeng sama yang diomongin. Bersikaplah seolah memang andalah pembicara yang direncanakan sejak awal, usahakan audiens tidak tahu.
Pemberitahuan bahwa anda baru dihubungi dsb bisa disampaikan di akhir pembicaraan. Dan sekali lagi tahukah anda dengan disampaikan hal ini di akhir justru dapat membuat audiens anda terpukau dan mereka jadi berpikir "gile, serepnya aja begini bagus, gimana pembicaranya aslinya" (ini bisa terjadi kalau anda benar-benar menyampaikan materi dengan bagus)
Nah, tips yang lumayan bagus kan? ampuh lho..
~ngga biasa jadi pembicara, biasa jadi audiens
Monday, November 5, 2007
Macam-macam Uang
“De’ uang apa yang bisa jalan?” kata mba-ku tiba-tiba. Hmm kalo dipikir keluargaku suka ngasih teka-teki tiba-tiba ya..tanpa ba-bi-bu sebelumnya
Apaan ya? Aku mikir, lama…
“tau ah..”
“Uangkutan umum”
“Ah, BT..”, denger jawabannya jadi BT, “gw BT bukan karena teka-tekinya mba, tapi BT karena jawaban segampang itu gw ngga bisa”
“gw kirain lo ngga pake mikir jawabnya de’, langsung bisa”
“uang apa yang luas?” aku gantian ngasih teka-teki, ngga mau kalah
“Uangkasa”
“Uang apa yang bikin capek”, aku keluarin teka-teki lagi karena yang tadi bisa dijawab
“Uangkat-angkat balok” mba-ku bisa jawab lagi
“Uang apa yang bisa ngangkat rumah dan pohon-pohon?” aku masih berusaha sampe dia ngga bisa jawab
Mba-ku bingung, “ga tau ah de“, akhirnya dia nyerah
“uangin puyuh” he..he..akhirnya aku menang
“uang apa yang ngga mungkin terjadi?”, aku masih ngga mau kalah
Mba-ku mikir..
“eh..eh..gw ralat deh, uang apa yang adanya pas lagi bengong?”
“apaan si?” mba-ku nyerah, kayaknya dia BT dengan pertanyaannya yang aneh..
“uangan-angan” he..he..”gw canggih kan mba, bisa langsung ngeluarin teka-teki bermacem-macem”
“halah” mba-ku ngga mau mengakui kehebatanku, menutup tebak-tebakan kita hari itu..
Apaan ya? Aku mikir, lama…
“tau ah..”
“Uangkutan umum”
“Ah, BT..”, denger jawabannya jadi BT, “gw BT bukan karena teka-tekinya mba, tapi BT karena jawaban segampang itu gw ngga bisa”
“gw kirain lo ngga pake mikir jawabnya de’, langsung bisa”
“uang apa yang luas?” aku gantian ngasih teka-teki, ngga mau kalah
“Uangkasa”
“Uang apa yang bikin capek”, aku keluarin teka-teki lagi karena yang tadi bisa dijawab
“Uangkat-angkat balok” mba-ku bisa jawab lagi
“Uang apa yang bisa ngangkat rumah dan pohon-pohon?” aku masih berusaha sampe dia ngga bisa jawab
Mba-ku bingung, “ga tau ah de“, akhirnya dia nyerah
“uangin puyuh” he..he..akhirnya aku menang
“uang apa yang ngga mungkin terjadi?”, aku masih ngga mau kalah
Mba-ku mikir..
“eh..eh..gw ralat deh, uang apa yang adanya pas lagi bengong?”
“apaan si?” mba-ku nyerah, kayaknya dia BT dengan pertanyaannya yang aneh..
“uangan-angan” he..he..”gw canggih kan mba, bisa langsung ngeluarin teka-teki bermacem-macem”
“halah” mba-ku ngga mau mengakui kehebatanku, menutup tebak-tebakan kita hari itu..
Ternyata Daun Ubi sama Daun Sirih Mirip ya?[Sebuah Catatan Kebodohan]
"Bapak nanem ubi jalar daunnya banyak banget ya, sampe ngerambat kemana-mana.." kata bapak di suatu malam.
Ha?! aku yang denger jadi kaget, "itu pohon ubi pak?"
"iya"
"beneran itu pohon ubi?" aku nanya berulang-ulang untuk menegaskan
"iya..kenapa sih?" bapak akhirnya kesel.
"Hmm soalnya waktu itu ada yang minta daun sirih dan kukasih daun itu, abisan kukira itu pohon sirih..."
Ha?!! gantian orang rumah yang pada kaget. "siapa yang minta?!"
"orang Rt 04.., udah agak lama sih.."
"pohon sirih mah di sebelah sana.." bapak menunjuk ke arah yang berlawanan dengan pohon ubi. "Trus jadi ga berkhasiat dong kalo pake daun ubi.." kata orang rumahku yang lain.
Aku bingung..mo gimana lagi..abis yang minta juga waktu itu bilang itu daun sirih ko..
Ternyata daun ubi sama daun sirih mirip ya? ko ga ada yang bilang-bilang sih?... Yang mau minta daun sirih pada dateng aja lagi..dijamin ga ketuker lagi deh sama daun ubi..--asal pohon sirihnya ga pindah dan ganti pohon lain--
Ha?! aku yang denger jadi kaget, "itu pohon ubi pak?"
"iya"
"beneran itu pohon ubi?" aku nanya berulang-ulang untuk menegaskan
"iya..kenapa sih?" bapak akhirnya kesel.
"Hmm soalnya waktu itu ada yang minta daun sirih dan kukasih daun itu, abisan kukira itu pohon sirih..."
Ha?!! gantian orang rumah yang pada kaget. "siapa yang minta?!"
"orang Rt 04.., udah agak lama sih.."
"pohon sirih mah di sebelah sana.." bapak menunjuk ke arah yang berlawanan dengan pohon ubi. "Trus jadi ga berkhasiat dong kalo pake daun ubi.." kata orang rumahku yang lain.
Aku bingung..mo gimana lagi..abis yang minta juga waktu itu bilang itu daun sirih ko..
Ternyata daun ubi sama daun sirih mirip ya? ko ga ada yang bilang-bilang sih?... Yang mau minta daun sirih pada dateng aja lagi..dijamin ga ketuker lagi deh sama daun ubi..--asal pohon sirihnya ga pindah dan ganti pohon lain--
Subscribe to:
Posts (Atom)