Perjalanan pulang dari kampus hari jumat kemarin menjadi perjalanan yang tidak biasa. Aku melihat sebuah tragedi yang sangat menyedihkan yang kuharap tidak akan pernah melihatnya lagi, untuk mahluk apapun.
Dijalan, sekitar jam 7. 30 malam, aku melihat seekor kucing yang tertabrak motor di jalur yang berlawanan. Karena kesakitan si kucing pun menggeliat-geliat dan meloncat-loncat. Karena posisinya masih ditengah jalan, si kucing itupun tertabrak lagi. Sesaat sebelum si kucing terlindas mobil aku sempat berteriak, tapi sayangnya teriakanku tidak bisa mencegah kejadian itu. Mungkin si pengendara tidak melihat ada kucing mengeliat-geliat di jalan.
Kemudian si kucing yang sekarang sekarat tergeletak di tengah jalan, yang gelap dan becek itu. Aku menepi, mematikan motor dan turun. Tapi yang kemudian kulakukan cuma terpana melihat kucing itu dari pinggir jalan, sedang sekarat, tubuhnya kejang-kejang, darah keluar dari mulutnya. Aku berpikir untuk mengangkat kucing itu kepinggir, biar tidak terlindas lagi. Tapi karena melihat banyak darah, aku jadi berpikir lagi. Aku takut, bahkan untuk melihat kucing itu dari dekat.
Kucingnya masih sakaratul maut, kemudian aku meminta bantuan ke seorang cewek yang lewat utnuk memindahkn kucing itu ke pinggir. Tapi dia juga takut. Akhirnya kita berdua cuma berdiri mematung, melihat kucing itu sekarat dari pinggir sambil terus khawatir kucing itu terlindas lagi.
Akhirnya kita berdua memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi, meninggalkan kucing itu, dengan perasaan kami masing-masing. Sepanjang jalan aku menangis. Sedih sekali. Didalam pikiranku terus terbayang kejadiannya, waktu kucing itu tertabrak, jatuh, terlindas, semuanya. Aku menangis karena kecewa dengan diri sendiri, kecewa karena begitu lemah sebagai seorang manusia, begitu lemah sebagai seorang wanita. Bahkan untuk memindahkan kucing ke pinggir jalan saja aku tidak bisa...
Tidak ada satupun manusia yang sempurna, yang ada adalah manusia yang senantiasa memperbaiki diri..termasuk saya, semoga..
Monday, February 18, 2008
Thursday, February 7, 2008
Untuk Semua Orang Baik Yang Kukenal
Ada berjuta orang baik yang tidak kita kenal, begitu kata Ahmad Zairofi. Semenjak sering berinteraksi dengan dunia maya saya semakin menyadari benarnya kata-kata ini.
Begitu banyak orang yang tidak kita kenal di dunia yang begitu luas ini. Sangat besar kemungkinannya mereka adalah orang yang lebih baik dari kita (dari berbagai aspek). Saya jadi ingat ketika dulu awal perkenalan saya dengan blog, saya suka sekali membaca blog orang lain. Dan betapa saya terkagum-kagum dengan sosok seorang mahasiswa UI dengan segala kelebihannya. Yah.. meskipun kemudian saya tidak lagi berkunjung kesana karena blog-nya jarang di-update dan beliau tidak pernah melakukan kunjungan balasan he..he.. *peace* (kecuali setelah orangnya sampai di negaranya Kakashi).
Lewat dunia maya juga saya jadi lebih sering berinteraksi dengan mantan teman sekelas yang padahal dulu waktu sekolah saya tidak pernah mengobrol satu katapun dengannya. Mungkin waktu 7 jam di sekolah masih kurang untuk memberi kesempatan saya berhubungan interpersonal dengan semua manusia lain di kelas. Waktu saya bilang padanya “nyesel lo baru kenal aku sekarang”, sebenarnya seharusnya sayalah yang menyesal karena terlambat mengenalnya dan menyadari kebaikannya. (jangan GR ya mel, tapi ente emang baik sekali hu..hu.. meskipun *** --gw sensor—haha)
Dan masih banyak lagi orang lain, yang saya kenal (mungkin tepatnya tahu) lewat tulisan-tulisannya di blog, lewat opini di milist, lewat obrolan via chatting. (ngga usah dibahas lebih lanjut yang ini ntar orangnya GR hue..he..)
Maka, kembali lagi ke kata-kata Ahmad Zairofi. Seperti perlombaan di awan yang gelap, begitulah hidup kita. Seiring dengan apa-apa yang kita lakukan untuk dunia dan akhirat kita, maka begitupun orang lain dengan usaha dan cara mereka masing-masing. Dengan menyadari ada begitu banyak orang yang tidak kita kenal, tapi mereka jauh lebih baik dari kita akan memicu kita untuk terus memperbaiki diri dan senantiasa tidak merasa cukup, merasa lebih baik karena kelak di akhiratlah penentuannya.
Terakhir, untuk semua orang baik yang kukenal, baik di dunia nyata maupun dunia maya, senang berkenalan dengan anda semua. Selamat memperbaiki diri (lagi dan lagi) dan semoga kita dikumpulkan di tempat yang baik nan kekal kelak.
Referensi:
Zairofi, Ahmad. 2006. Lelaki Pendek, Hitam, dan Lebih Jelek dari Untanya. Jakarta: Tarbawi Press.
Begitu banyak orang yang tidak kita kenal di dunia yang begitu luas ini. Sangat besar kemungkinannya mereka adalah orang yang lebih baik dari kita (dari berbagai aspek). Saya jadi ingat ketika dulu awal perkenalan saya dengan blog, saya suka sekali membaca blog orang lain. Dan betapa saya terkagum-kagum dengan sosok seorang mahasiswa UI dengan segala kelebihannya. Yah.. meskipun kemudian saya tidak lagi berkunjung kesana karena blog-nya jarang di-update dan beliau tidak pernah melakukan kunjungan balasan he..he.. *peace* (kecuali setelah orangnya sampai di negaranya Kakashi).
Lewat dunia maya juga saya jadi lebih sering berinteraksi dengan mantan teman sekelas yang padahal dulu waktu sekolah saya tidak pernah mengobrol satu katapun dengannya. Mungkin waktu 7 jam di sekolah masih kurang untuk memberi kesempatan saya berhubungan interpersonal dengan semua manusia lain di kelas. Waktu saya bilang padanya “nyesel lo baru kenal aku sekarang”, sebenarnya seharusnya sayalah yang menyesal karena terlambat mengenalnya dan menyadari kebaikannya. (jangan GR ya mel, tapi ente emang baik sekali hu..hu.. meskipun *** --gw sensor—haha)
Dan masih banyak lagi orang lain, yang saya kenal (mungkin tepatnya tahu) lewat tulisan-tulisannya di blog, lewat opini di milist, lewat obrolan via chatting. (ngga usah dibahas lebih lanjut yang ini ntar orangnya GR hue..he..)
Maka, kembali lagi ke kata-kata Ahmad Zairofi. Seperti perlombaan di awan yang gelap, begitulah hidup kita. Seiring dengan apa-apa yang kita lakukan untuk dunia dan akhirat kita, maka begitupun orang lain dengan usaha dan cara mereka masing-masing. Dengan menyadari ada begitu banyak orang yang tidak kita kenal, tapi mereka jauh lebih baik dari kita akan memicu kita untuk terus memperbaiki diri dan senantiasa tidak merasa cukup, merasa lebih baik karena kelak di akhiratlah penentuannya.
Terakhir, untuk semua orang baik yang kukenal, baik di dunia nyata maupun dunia maya, senang berkenalan dengan anda semua. Selamat memperbaiki diri (lagi dan lagi) dan semoga kita dikumpulkan di tempat yang baik nan kekal kelak.
Referensi:
Zairofi, Ahmad. 2006. Lelaki Pendek, Hitam, dan Lebih Jelek dari Untanya. Jakarta: Tarbawi Press.
Friday, December 21, 2007
Kebersamaan Itu Lebih Singkat, Maka Manfaatkanlah..(Sebuah tulisan untuk kakakku tersayang)

Lamanya kita bersama itu lebih singkat dari lamanya ketidakbersamaan kita, maka manfaatkanlah...
Denger kata-kata ini dari seorang selebritis di sebuah infotainment bertahun-tahun yang lalu. kalau kupikir kata-kata ini benar sekali, kalau konteksnya adalah kebersamaan dengan manusia.
Kata-kata ini biasanya aku inget kalau akan atau sedang menemui momen perpisahan. Seperti saat seperti ini, setelah salah satu kakak perempuanku menikah.
Lazimnya, setelah menikah seserang akan pindah dari rumah (apalagi perempuan) bersama pasangannya. Mba-ku pun demikian. Tidak lama lagi dia pun akan pergi dan tinggal bersama kami lagi.
Meskipun sebenarnya segera dipertemukannya dia dengan jodohnya adalah salah satu doa yang palinh sering kupanjatkan. Namun momen-momen perpisahan seperti ini ma tidak mau membuatku sedih juga. Dirumahku akan berkurang seorang penghuni, yang bukan cuma kakak buatku, tapi juga teman, sahabat, rekan seperjuangan, donatur, kreditur, debitur, murobbi, guru, murid, muwajih, "tong sampah", bahkan pasien.
Maka yang tersisa saat ini hanyalah penyesalan, karena tidak memanfaatkan waktu kebersamaan kami dengan baik.
Bahkan mamapun merasa kesepian dan bilang "sepi ya..biasanya abis sholat (Ied) langsung pada ngumpul, pada makan bareng-bareng, sekarang....", sampe siang mama juga masih nanya-nanya "Zaki kok ngga kesini ya? mba Dwi kok ga pulang aja sih sebentar, ngambil ketupat sama sayur abis itu kan bisa balik lagi..". Yah lagian mama juga sih, udah tau anak tinggal dua masih masak dengan porsi anak lima. Kalo gini aku yang repot mesti makan mulu, ngabisin jatah mereka biar ngga mubazir. Huh..kapan kurusnya gue?
Kembali ke perpisahan..karena ini adalah sebuah keniscayaan, akupun harus bisa menerima, hanya doa yang bisa kupanjatkan semoga mereka semua dianugerahi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. (Semoga aku juga nanti)
Dirumah masih ada 1 lagi tuh yang udah mesti nikah juga, semoga segera..amin..
Sejuta Rindu Untuk Ayah

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Sebenarnya perjalanan kami ke Kampung Naga kemarin berlangung biasa saja, diisi dengan nyanyi-nyanyi bareng, lagu yang 99,9% anak reguler UI tau seperti Genderang UI, Keroncong Kemayoran, Totalitas Perjuangan, Selamat Datang Pahlawan Muda sampe Balonku Ada 5 dengan nada Gaaudeamus Igitur, sibuk ngeledekin saya yang terbukti paling pelor diantara semuanya karena saya mulai tidur bahkan sebelum bisnya mulai jalan sampe ngga ikut berdoa bareng. Tapi kemudian perjalanan saya ini kemudian menjadi tidak biasa ketika tiba-tiba nyanyian kami diinterupsi oleh seorang teman "teman-teman kita berhenti sebentar ya, pak supirnya mau ketemu bapaknya sebentar", dan kemudian bis kamipun menepi.
Di pinggir jalan ada seorang bapak tua berkoko coklat dan berpeci, dengan dirinya yang tidak lagi tegak, gemetar, ditemani seorang pria yang lebih muda memegang tangannya.
Kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras Namun kau tetap tabah Meski nafasmu kadang tersengal Memikul beban yang makin sarat Kau tetap bertahan
Supir kami menghampiri bapak itu, mencium tangannya, dan bersalaman dengan pria di sebelahnya. Kemudian terlihat mereka mengobrol-ngobrol sebentar. Kami yang melihat peristiwa itu seperti sedang menonton adegan mengharukan di sinetron. Beberapa berseru "so sweet" , beberapa berkata "udah pak lama juga ngga papa, ngga usah buru-buru pak" meskipun kami tau supir kami tidak akan mendengarnya, ada yang matanya berkaca-kaca, bahkan ada yang menangis.
Saya jadi teringat bapak dirumah. Bapak yang telah begitu banyak jasanya pada saya. Bapak yang sama sekali tidak bisa dibilang muda lagi. Bapak saya yang di usianya sekarang, seharusnya tinggal duduk manis di rumah dan bercanda dengan cucu, masih punya tanggungan membiayai kuliah anak bungsunya yaitu saya. Semoga Allah SWT mengampuni dosanya, menyayanginya sebagaimana dirinya menyayangi saya diwaktu kecil (sampai sekarang) dan mengumpulkan kami di jannahNya kelak.
Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari Kini kurus dan terbungkuk Namun semangat tak pernah pudar Meski langkahmu kadang gemetar Kau tetap setia
Sampai saat ini saya masih tinggal dengan Bapak (Allah tidak mengijinkan saya kuliah di luar Jakarta selain Depok). Jadi saya belum pernah tidak bertemu bapak untuk waku yang lama (rekornya 20 hari waktu jadi relawan di Klaten tahun lalu). Maka sebenarnya saya tidak pernah mengalami sendiri lama tidak bertemu orang yang sangat berjasa dalam hidup kita itu.
Tapi saya bisa memahami yang dirasakan supir kami itu. Sampai-sampai dia meminta bapaknya menunggu di pinggir jalan karena dia akan melewatinya. Hanya utnuk bertemu sebentar, cium tangan dan sekedar bertanya kabar. Untuk melihat bahwa sang bapak baik-baik saja dan untuk memperlihatkan bahwa dirinyapun baik-baik saja. Karena pertemuan beberapa menit itu pasti berjuta-juta nilainya.
Ayah dalam hening sepi kurindu Untuk menuai padi milik kita Namun kerinduan tinggal hanya kerinduan Anakmu sekarang banyak menanggung beban
Monday, December 17, 2007
Bahkan Tahi Burung Juga Kompensasi
Pertama kali terkesan dengan kata kompensasi waktu kenaikan kelas 3 SMA dulu. Seorang teman tidak beruntung karena nilai fisikanya jelek padahal dia ingin sekali masuk IPA, orangtuanya juga berharap demikian. Akhirnya temenku ini dateng kerumah gur fisikanya dan mencoba melobi agar gurunya ini mau menaikkan nilainya. Guru fisikanyapun bersedia, tapi dengan syarat "ya..asal ada kompensasinya...kamu ngerti kan?" Karena temanku tidak mau memberikan kompensasi sesuai dengan yang guru itu minta, akhirnya tahun terakhirnya di SMApun dihabiskan di kelas IPS.
Tahun 2005 juga Indonesia dihebohkan dengan kompensasi. Pemerintah membuat kebijakan untuk mengurangi subsidi BBM dan mengalihkannya ke tempat lain. Alhasil harga BBMpun melambung. Subsidi BBM yang dialihkan, kemudian disebut kompensasi, juga membuat kehebohan di beberapa tempat. Beberapa berita menyebutkan terjadi kerusuhan kecil atau desak-desakan yang diikuti lauka-luka di beberapa lokasi tempat dana kompensasi dibagi.
Begitulah hidup ini, segala hal memang ada kompensasinya. Mau masuk surga, kompensasinya ya kita harus bertaqwa agar Allah juga akhirnya berkenan memberikan rahmatNya. Mau kaya, kompensasinya harus giat cari uang --atau giat cari suami kaya. Mau pinter harus belajar --Tuk Bayan Tula aja tau. Sampe mau kurus juga ada kompensasinya, betapa banyak cewek-cewek yang masuk rumah sakit karena cara dietnya yang tidak sehat.
Hal-hal sederhana dalam kehidupa sehari-haripun tidak terlepas dari perkara kompensasi ini. Seperti biasa, kalau aku cari tempat parkir, biasanya cari yang "adem", yang terlindung dari sinar matahari langsung. Parkiran di kampus tidak ada atapnya maka tempat yang adem adalah di bawah pohon. Nah, disinilah letak kompensasinya. Karena di bawah pohon, seringkali jok motorku kena tahi burung yang b*rak di atas pohon, pernah sampe 3 buah, eh potong, eh apaan sih satuannya mestinya? Kalau sudah begini bakal repot banget, mesti cari cewek-cewek yang bawa tisu (aku bukan jenis cewek yang begini), basahin tisunya dan mulai membersihkan. Bahkan repot yang kurasakan juga kompensasi yang harus kubayar agar rok atau bajuku tidak kena najis itu.
Tahun 2005 juga Indonesia dihebohkan dengan kompensasi. Pemerintah membuat kebijakan untuk mengurangi subsidi BBM dan mengalihkannya ke tempat lain. Alhasil harga BBMpun melambung. Subsidi BBM yang dialihkan, kemudian disebut kompensasi, juga membuat kehebohan di beberapa tempat. Beberapa berita menyebutkan terjadi kerusuhan kecil atau desak-desakan yang diikuti lauka-luka di beberapa lokasi tempat dana kompensasi dibagi.
Begitulah hidup ini, segala hal memang ada kompensasinya. Mau masuk surga, kompensasinya ya kita harus bertaqwa agar Allah juga akhirnya berkenan memberikan rahmatNya. Mau kaya, kompensasinya harus giat cari uang --atau giat cari suami kaya. Mau pinter harus belajar --Tuk Bayan Tula aja tau. Sampe mau kurus juga ada kompensasinya, betapa banyak cewek-cewek yang masuk rumah sakit karena cara dietnya yang tidak sehat.
Hal-hal sederhana dalam kehidupa sehari-haripun tidak terlepas dari perkara kompensasi ini. Seperti biasa, kalau aku cari tempat parkir, biasanya cari yang "adem", yang terlindung dari sinar matahari langsung. Parkiran di kampus tidak ada atapnya maka tempat yang adem adalah di bawah pohon. Nah, disinilah letak kompensasinya. Karena di bawah pohon, seringkali jok motorku kena tahi burung yang b*rak di atas pohon, pernah sampe 3 buah, eh potong, eh apaan sih satuannya mestinya? Kalau sudah begini bakal repot banget, mesti cari cewek-cewek yang bawa tisu (aku bukan jenis cewek yang begini), basahin tisunya dan mulai membersihkan. Bahkan repot yang kurasakan juga kompensasi yang harus kubayar agar rok atau bajuku tidak kena najis itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)